Arsip untuk November, 2007

Ketika Wirausaha Kian Belia

Posted in wira usaha on November 22, 2007 by abufarros

57287.jpg           

Enterprise 50 

Ketika Wirausaha Kian Belia

Oleh : Teguh Poeradisastra 

Di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia: pemimpi danpengusaha. Perbedaan di antara keduanya hanya satu: aksi. Jikapemimpi berhenti sebatas angan-angan, wirausaha berusahamewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Mengapa tak memulainyasekarang juga?Awalnya adalah Sambel Tomat, warung gerobak di Jl. Mahakam,Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Modalnya tentu saja sangatbesar.

Jangan salah, maksudnya gagasan besar, kemauan kerasdan semangat berkobar. Modal berupa uang tunainya sih relatif:Rp 15 juta. Dan itu bukan dari kocek satu orang. Uang sejumlahitu dihimpun dari Rene Suhardono Canoneo, Ragil Iman Wibowo,Riko Kasmanda, dan tujuh orang lainnya, masing-masing Rp 1juta. Lantas, Rp 5 juta lainnya pinjaman dari paman Rene. Waktu itu, 1998, mereka masih menyewa tempat di pekaranganRestoran Bakery Nila Chandra. ”Sewanya Rp 500 ribu sebulan,”ujar Rene mengenang.

Kini, tak sampai sewindu kemudian, siapamenyangka warung gerobak mereka telah berubah menjadi jaringanresto. Di bawah PT Trirekan Rasa Utama yang mereka dirikanpada 2003, bernaung sejumlah resto: Dixie Easy Dining (empatdi Jabotabek dan satu di Yogyakarta), Mahi-mahi (dua diJabotabek dan satu di Yogya), RiceBar (Yogya), Warung Pasta(dua di Yogya), Ronin Bistro (Bekasi) serta Asahi JapanesseRestaurant (Jakarta). Total karyawannya kini 230 orang, bahkanakan terus meningkat karena Warung Pasta mulai dikembangkandengan model waralaba. 

Trirekan cuma salah satu dari usaha kecil dan menengah yangmeraih penghargaan Enterprise 50 (E-50). Inilah upayaapresiasi bagi para wirausaha tahan banting yangdiselenggarakan Majalah SWA dan Laboratorium Studi ManajemenFakultas Ekonomi Universitas Indonesia, serta didukungHimpunan Pengusaha Muda Indonesia. Kegiatan ini telah enamkali kami lakukan sejak 2000.

Kami yakin kegiatan seperti inipenting untuk terus menggelorakan semangat kewirausahaan disemua kalangan. Perbedaan antara wirausaha dan pemimpi memang sangat tipis,hanya satu langkah. Keduanya sama-sama mengangankan danmenginginkan sesuatu. Namun, pemimpi berhenti sebatasangan-angan, sedangkan wirausaha berusaha mewujudkan mimpinyamenjadi kenyataan.                  

Modal utama pengusaha bukanlah uang atau koneksi, melainkan kreativitas dan keuletan, semangat pantang menyerah. Banyak penelitian yang mengungkapkan, lebih dari separuh wirausaha rontok sebelum mencapai usia tiga tahun. Ada banyak alasannya, termasuk kehabisan modal. Akan tetapi sesungguhnya, faktor yang lebih menentukan adalah kehabisan semangat dan kreativitas.

Mereka yang memiliki semangat pantang menyerah memandang kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Meski  terantuk dan terjatuh, mereka akan bangkit kembali dengan gagah. Pepatah mengatakan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ini memang pepatah djadoel alias djaman doeloe, tetapi masih  tetap relevan di era sekarang. Lihat saja buktinya: begitu  beragam bidang yang digeluti para penerima penghargaan E-50 untuk mencetak keberhasilan. Mulai dari industri resto hingga jasa keamanan, dari fashion hingga peralatan kantor, dari peranti keras hingga peranti lunak. Skala bisnisnya pun  bervariasi, mulai dari yang beromset di bawah Rp 5 miliar/tahun hingga Rp 100 miliar/tahun.                  

Dengan begitu beragamnya tingkatan peserta ini, agar penilaian menjadi lebih adil, kami mengelompokkan peserta berdasarkan omsetnya: perusahaan dengan omset per tahun > Rp 5-10 miliar, Rp 10-50 miliar, dan di atas Rp 50-100 miliar. Lalu, ada pula kategori Start-up untuk perusahaan yang beroperasi kurang dari tiga tahun dan/atau pengusahanya berusia kurang dari 30 tahun. Selain itu, juga ada penghargaan khusus, yaitu The Most  Established Company, The Best in Branding serta The Most  Innovative Company.   

Di antara para wirausaha tahan banting ini, tak sedikit yang memulai usahanya dengan modal terbatas, seperti Trirekan tadi.  Namun, dengan kreativitas dan passion – perpaduan antara semangat dan kecintaan pada bidang yang digeluti – semua kesulitan tadi bisa diatasi. Kreativitas merupakan salah satu sifat yang sangat dibutuhkan dan menentukan keberhasilan seorang wirausaha. Orang kreatif tak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. 

Mereka akan mengubahnya menjadi peluang. Ini berarti harus ada keberanian mengambil risiko, baik risiko bisnis setiap kali menangani suatu proyek maupun risiko menyeberang kuadran, dari karyawan menjadi usahawan. Namun, berani mengambil risiko bukan berarti nekat dan asal tubruk ketika melihat peluang. 

Naluri saja tidak cukup, perhitungan matang tetap harus dilakukan. Ini berarti seorang wirausaha harus mampu memadukan hati dengan kalkulasi. Syukurlah, kemampuan tersebut sudah dimiliki sebagian wirausaha kita – paling tidak mereka yang terpilih sebagai penerima penghargaan E-50 ini. Sektor bisnis yang digeluti pun tak semata sektor tradisional lagi. Banyak juga yang menggarap sektor masa depan seperti sektor teknologi informasi – misalnya, pembuatan peranti lunak.  

Yang lebih menarik lagi, kini semakin banyak saja wirausaha yang merintis bisnisnya sejak usia awal 20-an tahun. Ada Andy Bogel, pemilik Distro Insomania yang berusia 22 tahun, juga Sujianto (pemilik kursus bahasa Mandarin), artis Irgi Fahrezi yang semuanya masih kinyis-kinyis. Harimin, pemilik Multiplus, jaringan bisnis layanan kantor, pun memulai bisnisnya ketika berusia 22 tahun, begitu lulus dari Universitas Bina Nusantara. Kini Multiplus tumbuh menjadi 88 gerai yang tersebar di 14 kota dan akan segera merangsek ke Singapura dan Cina. Lewat konsep waralaba yang diterapkannya, bisa dipastikan pertumbuhan bisnisnya akan kian meroket.

Bahkan, Asosiasi Franchise Indonesia menganugerahkan Indonesia Franchise Gold 2006 kepadanya. Fenomena kian mudanya entrepreneur fresh from the oven ini menarik dicermati. Pasalnya, hingga beberapa tahun lalu, tak sedikit yang memilih baru terjun setelah usia 40-an tahun. Alasannya, agar bisa menimba ilmu dulu dengan menjadi profesional di bisnis orang lain sebagai fondasi sekaligus pemanasan untuk berkiprah di bisnis sendiri. Sepak terjang para usahawan belia ini pun tak kalah gesit, sehingga kami merasa perlu menampilkan mereka dalam daftar Entrepreneur to Watch. 

Kian maraknya orang yang memilih menjadi wirausaha ini patut disambut gembira dan didukung penuh. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi makro suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan  ekonomi mikronya. Banyaknya dunia usaha akan menciptakan banyaknya lapangan pekerjaan, yang tentunya meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat memiliki daya beli  dan mampu berbelanja. Begitu terus, sehingga roda ekonomi pun bisa terus berputar.   

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

Posted in motivasi on November 22, 2007 by abufarros

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

From : Unknown
 
PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.
 
Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.
 
Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.
 
“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.
 
Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

‘Looking Good’ trend led by Metrosexuals

Posted in ritel on November 22, 2007 by abufarros

projekt_elewacji_czeladzd.jpg 3full.jpg

‘Looking Good’ trend led by Metrosexuals  The world’s embrace of metrosexual males has raised pressure on everyone to look good. If the likes of George Clooney, Bono and Brad Pitt have the masculinity and confidence to groom, moisturize and more, so can the Average Joe, Jacques or Jose. Regardless of continent, culture, age or gender, looking good is a heightened societal expectation, believe the vast majority of 26,486 consumers surveyed online by Nielsen Customized Research on their attitudes towards and buying habits of health and beauty. Women have long felt this pressure, but men no longer get a free pass by saying they have little interest, time or resources to make the effort, expressed consumers from 46 markets extending across the Americas, Europe, Asia and the Middle East. Eight out of 10 agreed (78% globally/84% in U.S.) that it’s okay for men to invest in their appearance. Indeed, “these days, the pressure to look good is much greater than it was in our parents’ generation,” agreed 72 percent of the global survey respondents. Corroboration ranged from 66 percent in the United States to 69% in Canada, 72 percent in the Asia-Pacific region, 75 percent in Europe and 81 percent in Latin America. Behind these feelings is a momentum-building context, which the study doesn’t specifically address: People are fed up with obesity and now celebrate weight loss; they’re in tune with wellness and pro-environment themes; and they’re focused on fashion. Though few males will ever approach the Clooney appearance standard, the look-good trend bodes well for makers of many personal care and beauty products. Globally, 30 percent of consumers said they “spend more than they used to” on beauty products and treatments; in the U.S., 23 percent said the same. The most personal grooming dollars in the U.S. go to hair care (81%), skin care (61%) and facial treatments (47%). Less popular are hair removal (21%), tanning (23%) and eyebrow/eyelash tinting and shaping (29%), the study showed. If money were no object, respondents told Nielsen, they’d spend the most on body massages, teeth whitening, hair care, facial treatments and manicures/pedicures.  “Pressure to look good is felt worldwide,” said Shuchi Sethi, vice president, consumer products, Nielsen Customized Research. “That doesn’t necessarily mean consumers are compelled to spend more on beauty products and treatments. It seems the older you get, the less you spend, as teens and consumers in their 20s spend more in this category.” Relationships can affect spending even more than age, suggested study findings: 62 percent of Americans spend on beauty to look good for their current partner, while 34 percent spend to help attract a partner. “More important…is that many U.S. consumers…invest in beauty products simply because it makes them feel good (64%),” added Sethi. Latin-Americans (84%) lead the world in this beauty motivation, followed by consumers in Asia-Pacific (62%), North America (62%) and Europe (60%). Upscale brands don’t always sway purchase decisions. Eight out of 10 (80%) U.S. consumers agreed very much/somewhat that mass-market hair, skin and cosmetics products are just as good. Price (63%) and brand (47%) are the two leading purchase factors in the U.S., where consumers buy these items primarily in supermarkets (53%), followed by department stores (47%), drug stores (40%) and other out  Danang Widiasurya Retailer Service ExecutiveTCS Indonesiawww.nielsen.com    

Retailers Say U.S. Sales May Slow Through Holidays

Posted in ritel on November 22, 2007 by abufarros

 1fullgg.jpg

Retailers Say U.S. Sales May Slow Through Holidays

By Lauren Coleman-Lochner

U.S. retailers are poised for a sales slowdown that may last through the holidays and into 2008. Target Corp., the second-biggest U.S. discounter, reported today its first profit decline in two years. Home improvement chain Lowe’s Cos. yesterday cut its earnings forecast for the second time in two months, and a survey of consumers showed the biggest portion of Americans in eight years plan to spend less money on holiday items. Rising gasoline prices and the worst housing recession in 16 years have caused shoppers to make fewer trips to stores. Retailers, which count on November and December for 20 percent of their revenue, are making holiday price cuts earlier and more aggressively than last year. “All these factors continue to pressure consumers, and it looks like that pressure isn’t easing,” said Steven Baumgarten, an analyst at PNC Wealth Management in Philadelphia, with $77 billion in assets including Wal-Mart Stores Inc. and Target shares. Target, which trails Wal-Mart in sales, said today that third-quarter profit fell to $483 million, or 56 cents a share, trailing analysts estimates, after demand for its profitable clothing and home goods slowed. Borders, the second-largest U.S. discount chain, may report a loss of 62 cents, the seventh straight quarter without a profit, after selling its U.K. and Ireland stores, analysts estimated. The Ann Arbor, Michigan-based retailer reports results later today.   Worst Since 2005 Clothing chain Limited Brands Inc., based in Columbus , Ohio , will probably show that it broke even in its third quarter, according to 19 analysts surveyed. That would be the company’s worst earnings performance in two years. Merchants including Kohl’s Corp. said they’re planning conservatively next year after third-quarter sales trailed predictions. Lowe’s, based in Mooresville , North Carolina , lowered its earnings forecast for the rest of the year ending Feb. 1 as it reported a 10 percent drop in third-quarter profit amid the worst U.S. housing recession since 1991. Last week J.C. Penney Co., the third-largest U.S. department-store company, and Seattle-based Starbucks Inc., the world’s largest coffee-shop chain, also reduced their profit outlooks, as did Atlanta ’s FedEx Corp., the second-largest U.S. package-shipping company. “A weakening housing market continues to take a toll,” Brian Nagel, an analyst with UBS Securities LLC, wrote in a note yesterday.     Cost of Heat So are consumer debt levels, rising gasoline prices and higher home-heating costs, according to a survey released yesterday. The research, by the Consumer Federation of America and the Credit Union National Association, found that 35 percent of Americans polled said they intend to lower their holiday spending this year, the most in eight years and up from 32 percent last year. “By a wide margin, the strongest negative influence is the high cost of gasoline and home heating,” the credit union group’s chief economist, Bill Hampel, said at a news conference. Besides pressured consumers, the two largest booksellers are grappling with competition from Bentonville, Arkansas-based Wal-Mart and online retailer Amazon.com. New York-based Barnes & Noble and Borders have slashed prices by as much as 40 percent to drive sales.  Barnes & Noble Barnes & Noble, the world’s largest bookstore chain, today reported a third-quarter profit on higher Internet sales. The New York-based chain posted profit of $4.38 million, or 7 cents a share. Five analysts surveyed by Bloomberg forecast a loss of 9 cents a share. Kohl’s and J.C. Penney, two retailers catering to middle- income shoppers, cut their fourth-quarter forecasts last week. “We’re being very conservative in our sales planning for 2008,” Wes McDonald, chief financial officer at Menomonee Falls, Wisconsin-based Kohl’s, said on the company’s third- quarter earnings call last week. Shares of retailers have been plunging since the holiday sales season started Nov. 1. The Standard & Poor’s 500 Retailing Index is down 12 percent this month, including a 27 percent drop by Plano, Texas-based J.C. Penney.  Holiday Discounts Wal-Mart, the world’s biggest retailer, started its holiday discounts in October, and unveiled sale prices for the day after the U.S. Thanksgiving holiday. The chain offered a 42-inch liquid-crystal display television set for $798 and a Tonka dump truck for $10 in a circular on its Web site. Sales in November and December represent 20 percent of retailers’ annual revenue, according to the National Retail Federation, a Washington-based trade group. The NRF has predicted a 4 percent sales gain to $475.5 billion for the two months combined, the smallest increase since a 1.3 percent rise in 2002. Lowered expectations for the current quarter bode poorly for 2008, said Lauri Brunner, an analyst at Thrivent Investment Management in Minneapolis , with $70.6 billion in assets. “If that happens in your best quarter in the year, it doesn’t mean it’s going to stop in the first quarter of next year,” she said. The International Council of Shopping Centers, a New York- based trade group, projects November and December comparable sales at about 70 chains it tracks to climb 2.5 percent, the least in three years. “People are going to be tighter than normal with their spending,” said Baumgarten of PNC Wealth Management. “All indications are, it’s going to be a tough period.”  Source: www.bloomberg.com Eric Chandra
Merchandising and Retailer Service
The Nielsen C om pany

www.nielsen.com
 
  

SEBERAPA WIRAUSAHA KAH ANDA?

Posted in management on November 22, 2007 by abufarros

57245.jpg 

SEBERAPA WIRAUSAHA KAH ANDA? Banyak orang terjun ke dunia usaha, lalu menyebut dirinya sebagai wirausahawan. Ini menunjukkan bahwa istilah “wirausahawan” itu sudah begitu populer di kalangan masyarakat, sehingga kata-kata ini seakan-akan sudah difahami sebagai pengganti kata “businessman”. Apakah dengan demikian, kata “wirausahawan’ itu benar-benar sama artinya dengan kata “businesman”? Dan kata “wirausaha” sama dengan “business”? Mari kita lihat. Seperti diketahui, ledakan perkembangan bisnis terjadi bersamaan dengan terjadinya Revolusi Industri di Inggris. Lahirnya mesin-mesin industri, membuat dunia perdagangan menjadi marak, karena semua kebutuhan konsumen dengan mudah dapat dipenuhi, tidak peduli berapa banyak jumlah produk yang diminta. Mesin mempermudah segalanya. Mekanisasi industri yang memungkinkan dilakukannya produk masal dengan mutu tinggi, merangsang para pedagang untuk berlomba-lomba menciptakan produk-produk baru yang menarik untuk ditawarkan pada calon pembeli. Fenomena ini akhirnya berkembang menciptakan iklim persaingan antar produsen dan penjual barang. Makin hari persaingan makin tajam, dan menyebabkan para pebisnis merasa semakin sulit menjual produknya di pasar. Dan di sinilah dimulainya degradasi moral. Beberapa businessman yang merasa terjepit, mulai melakukan kecurangan-kecurangan. Penipuan, manipulasi mutu dan harga serta banyak lagi tindakan-tindakan tidak terpuji. Gejala seperti itu berkembang terus, makin lama keculasan para pedagang makin tidak terkendali. Etika seakan sudah tidak diindahkan lagi, setiap orang berebut rejeki untuk kepentingan diri sendiri. Semua cara dihalalkan, kalau perlu dengan menyikut orang lain. Atau menjual barang terlarang sekali pun. Itu sebabnya pada akhirnya orang mengenal apa yang disebut dengan “mafia”. Sejenis kelompok bisnis yang tidak segan-segan melukai bahkan membunuh siapa saja (pejabat pemerintah sekali pun) demi kepentingan bisnis. Melihat dunia usaha yang sudah demikian ambur-adul, masyarakat banyak akhirnya mengasosiasikan bisnis sebagai kegiatan kotor, lambang keserakahan yang menjijikkan. Timbul semacam perasaan skeptis di kalangan awam. Sadar akan hal itu, beberapa kalangan pengusaha yang masih memegang nilai-nilai bisnis yang bersih, mulai menerapkan dan mengembangkan prinsip perdagangan baru. Mereka tetap berpendapat bahwa bisnis itu sebenarnya mengandung nilai-nilai yang luhur. Dengan bisnis, martabat manusia menjadi ditinggikan dan termuliakan. Oleh karenanya, sifat serta tindakan buruk harus dilenyapkan dari dunia usaha. Maka, wacana entrepreneurship pun muncul. Inilah yang kemudian di Indonesia dikenal dengan istilah “wiraswasta” dan bermetamorfosis menjadi “wirausaha”. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa perbedaan pertama yang membedakan makna “bisnis” dengan “wirausaha” adalah bahwa “bisnis” memilik arti yang lebih umum, dengan kriteria-kriteria yang lebih longgar. Sedangkan “wirausaha” mengandung arti tentang serangkaian kegiatan komersial, dengan dilandasi pada attitude yang baik dari pelakunya. Wirausahawan berkiprah melalui koridor yang lebih sempit, di mana mereka harus memperhatikan berbagai kriteria, rambu dan etika yang akan menjamin kelangsungan kehidupan berbisnis agar selalu menghasilkan manfaat maksimal bagi umat manusia (bukan hanya dirinya sendiri saja). Walau pun dalam kenyataannya, “businessmen” mau pun “entrepreneurs” terlibat dalam aktivitas yang sama, dalam ruang dan waktu yang sama pula, namun ada beberapa tolok ukur yang dapat digunakan untuk membedakan kedua jenis pelaku ekonomi ini. Di antaranya adalah: 1. Business bersifat “focus on profit”, sedangkan wirausaha bersifat “focus on benefit”. Seorang pebisnis umumnya memusatkan perhatian pada sebanyak-banyaknya keuntungan komersial yang dapat diperoleh, tanpa memperhatikan dan kalau perlu mengorbankan kepentingan orang lain. Misalnya, perusahaan pertambangan yang sangat kaya raya, tapi tidak memperhatikan kerusakan lingkungan dan membiarkan masyarakat sekitarnya tetap miskin. Kalau sang pengusaha adalah seorang wirausahawan tulen, hal itu tak akan terjadi. Karena ia pasti akan memelihara serta melestarikan lingkungan dan menyejahterakan masyarakat sekitar. Ia sadar bahwa tindakan itu bukan sekadar tindakan bersifat sosial semata, tapi juga mengandung benefit yang mendukung kemajuan perusahaannya. 2. Bisnis lebih bersifat “win-lose”, sedangkan wirausaha lebih bersifat “win-win “. Kebanyakan pebisnis menghendaki kekalahan pesaingnya, dengan demikian ia mengira usahanya akan lebih leluasa mengejar keuntungan, tanpa harus memperhatikan kualitas dari produk dan jasa yang dijual. Wirausaha sebaliknya, lebih merasakan manfaat dari kehadiran para pesaing, dengan demikian setiap saat ia dapat mengukur kualitas produk serta peningkatan kinerja perusahaannya. 3. Bisnis menggunakan pendekatan “kuantitatif”, sedangkan wirausaha menggunakan pendekatan “kualitatif”. Secara tradisional, kaum pebisnis selalu memulai usahanya dengan kapital besar, setidaknya dalam jumlah yang seaman-amannya sesuai dengan ukuran besar-kecilnya suatu bidang bisnis. Dalam hal ini, pengusaha lebih mengandal pada kekuatan finansial yang ada di bawah kendalinya. Wirausahawan di lain fihak, memulai usaha dengan modal kecil, kadang tidak sesuai dengan jumlah normal yang diperlukan bagi sebuah bidang usaha. Tetapi, banyak dari mereka berhasil sukses. Dalam hal ini, wirausahawan lebih mengandal pada keuletan pribadinya, bukan kepada kekuatan uang. 4. Bisnis berpedoman kepada “hasil’, sedangkan wirausaha berpedoman kepada “cara’ Pebisnis kebanyakan berkiblat hanya kepada hasil yang harus dicapai, tanpa peduli cara apa yang digunakan. Misalnya, kalau hendak melakukan pembebasan tanah, kalau perlu mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan. Sebaliknya, wirausahawan lebih menggunakan pendekatan saling menguntungkan. Tidak jarang dalam suatu program pembebasan tanah yang dilaksanakan seorang wirausahawan, warga yang tergusur justru berubah menjadi orang-orang kaya baru (OKB), bahkan tidak sedikit yang kemudian pergi naik haji dengan istilah mereka sendiri “Haji Gusuran”. Ciputra adalah salah seorang yang menunjukkan kualitasnya sebagai wirausahawan seperti itu. 5. Pebisnis menganalogikan aktivitasnya sebagai “perang”, dan cenderung “membunuh orang lain”. Sedangkan wirausahawan lebih berkeinginan untuk “menghidupi orang lain”. Pada beberapa peristiwa, high-class businessmen selalu mengincar perusahaan-perusahaan lain yang lebih kecil untuk diakuisisi. Senang atau tidak senang. Di masa lalu, taipan yang menguasai bisnis terigu dari hulu sampai ke hilir, selalu memaksa perusahaan-perusahaan mie milik orang lain untuk diambil alih. Kalau tidak bersedia, pasokan terigunya akan dihentikan, maka mau tidak mau pengusaha-pengusaha mie itu menyerah juga. Itulah kecenderungan dari sepak terjang seorang pebisnis. Wirausahawan sebaliknya, mencari momentum untuk dapat bersinergi dengan kompetitor. Contohnya, Hewlett Packard (HP) memberikan fasilitas dan bantuan kepada pesaingnya “Textronix” untuk memproduksi barang yang sama serta dengan teknologi yang sama pula dengan yang diproduksi oleh HP. Begitu juga dengan yang dilakukan Astra. Perusahaan raksasa nasional ini, tidak berupaya untuk mencaplok orang lain. Sebaliknya, mereka melakukan pendekatan kemitraan, dengan jalan memberikan pembinaan modal dan manjemen kepada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. 6. Bisnis memasukkan sudut pandang “spekulatif”, sedangkan wirausaha memasukkan sudut pandang “partisipatif” . Di dunia perdagangan saham, rekasadana dan juga valas, para pebisnis berlomba-lomba mengerahkan segenap kemampuan untuk dapat meraup sebanyak-banyaknya keuntungan finansial. Mereka memainkan uang tidak ubahnya bagai penjudi-penjudi yang sedang bertaruh. Seorang wirausahawan, berpartisipasi di dunia saham, reksadana dan valas dengan paradigma sebatas antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya perubahan ekonomi mendadak. Di samping itu juga atas dasar simpatinya kepada perusahaan-perusahaan yang berkarakter wirausaha, atau kepada pemerintah. 7. Businessmen menerapkan teori x atau y, sedangkan wirausahawan menerapkan teori z. Dalam menangani masalah karyawan, pebisnis biasanya menerapkan teori x atau y (McGregor) yang pada galibnya memperlakukan karyawan hanya sebagai unsur produksi. Para wirausahawan di lain fihak, condong melakukan pendekatan kemitraan ala teori z (William Ouchi), sehingga para karyawan merasa berbahagia karena diperlakukan sebagai manusia yang sederajat. 8. Seorang wirausahawan adalah seorang (clean) businessman, tapi seorang businessman belum tentu seorang wirausahawan. Butir-butir penjelasan di atas diharapkan dapat membantu Anda untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa yang dimaksud dengan kewirausahaan. Pada acara-acara pemilihan The Best Entrepreneur, Entrepreneur Of The Year dan semacamnya, maka kriteria-kriteria di atas seyogyanya dapat diterapkan, agar tidak terjadi pemilihan yang tidak proporsional. Pertanyaan berikut mungkin perlu diajukan: “Sudah seberapa wirausaha kah Anda?” Rusman Hakim Pengamat Kewirausahaan E-mail: rusman@gacerindo.com Web: http://www.gacerindo.com Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com

Skill saja Tidak Cukup

Posted in motivasi on November 22, 2007 by abufarros

 57246.jpg

Skill saja tidak cukup

A. B. Susanto*


Seorang rekan di kantor kami pernah bercerita tentang pengamatannya terhadap dua orang rekan kantornya di perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya. Hasil pengamatan ini sungguh menarik untuk dicermati sebagai studi kasus yang nyata, untuk kita ambil hikmahnya. Bahkan, barangkali entah secara sadar atau tidak sadar Anda sendiri pun pernah berada dalam situasi yang serupa dengan salah satu tokoh dalam kisah nyata ini. Bukankah belajar dari pengalaman orang lain cenderung lebih mudah daripada berkaca pada diri sendiri? Dalam melakukan analisis, bukankah seringkali obyektivitasnya lebih terjaga ketika obyek amatannya adalah orang lain dan bukan diri kita sendiri?

Untuk memudahkan rekonstruksi cerita dan menyamarkan jati diri rekan dari rekan saya ini, kita sebut saja pihak pertama dengan nama Agung dan pihak kedua dengan nama Bram. Agung dan Bram adalah dua orang fresh graduate dari dua universitas di dalam negeri yang berlainan. Agung lulusan dari PTN ternama dengan disiplin ilmu yang jadi unggulan di almamaternya, dan prestasinya memang baik sekali. Wajar sekali jika Agung bangga dengan prestasi akademisnya. Bram sendiri meski tidak segemerlap itu almamaternya tetapi sesungguhnya prestasi akademiknya hanya beda tipis di bawah Agung. Kebetulan keduanya memulai hari pertama dalam perjalanan karirnya di perusahaan yang sama, departemen yang sama, tanggung jawab yang kurang lebih sama dan bahkan memulainya pada minggu yang sama pula. Yang berbeda hanyalah divisi tempat bekerja dan kick-off day-nya saja. Kesamaan titik start dan tanggung jawab ini, yang memang benar-benar terjadi, sungguh merupakan kebetulan yang memudahkan kita dalam melakukan analisis.

Keunggulan prestasi akademis Agung ternyata sukses ditransformasikan ke dalam pekerjaannya. Ia berhasil mendapatkan ”proyek cokelat”, kategori proyek yang di lingkungan kerjanya tergolong proyek besar, wah, dan prestisius. Proyek yang manis dan dimaui semua orang. Suksesnya dalam mendapatkan proyek coklat ini ditindaklanjuti dengan penanganan yang prima, baik secara teknis maupun non teknis, sehingga klien benar-benar puas. Hubungan baik yang terjalin dan kepuasan atas pekerjaan menimbulkan kepercayaan yang tinggi dari klien kepada perusahaan ini dan lebih khusus lagi kepada Agung. Hal ini membuat klien tersebut tidak bisa pindah ke lain hati. Dapat ditebak, loyalitas klien dengan proyek cokelat yang berulang ini tentu memuaskan manajemen perusahaan tempat Agung bekerja. Berhubung perusahaan tempatnya bekerja memiliki sistem reward yang baik, maka dengan mulus Agung pun mendapat ganjaran yang setimpal. Ia dipromosikan menjadi senior di usianya yang masih muda. Promosi ini juga berimbas pada gajinya yang meningkat secara signifikan. The rising star sudah menunjukkan sinarnya.

Di saat Agung mendapatkan promosinya, mari kita tengok apa kabar Bram? Boleh dikata, Bram belum seberuntung Agung. Dalam jenjang struktur organisasi, Bram masih belum beranjak dari posisinya di saat start. Berarti, satu langkah Bram telah tertinggal dari Agung yang hari pertamanya bekerja hanya berbeda dalam hitungan jari pada satu tangan. Apakah berarti Bram tidak bisa bekerja dengan baik? Kenyataan di lapangan menyatakan bahwa Bram bekerja dengan baik. Klien (eksternal) maupun teman sejawat nyaris tidak pernah ada yang mencela terhadap hasil maupun proses kerja yang dilakukan Bram. Sebagai pekerja, Bram adalah pekerja yang tekun. Dalam kata lain, tidak ada masalah dengan kinerja Bram. Apalagi Bram merupakan tipe orang yang luwes dan supel dalam bergaul serta memiliki artikulasi yang baik dalam berkomunikasi. Dalam setiap evaluasi penilaian kinerja (performance appraisal), Bram selama ini memang selalu tertinggal dari Agung, tetapi bukan berarti ada masalah pada diri Bram. Hal ini terjadi hanya karena Agung selama ini secara luar biasa menunjukkan kinerja yang excellent dan Bram dengan prestasinya yang sekedar ’baik’ tertutup pamornya.

Perkembangan setelah tahap ini lebih menarik lagi. Sebagai the rising star, Agung diposisikan sebagai selebritis. Didukung oleh kekuatan humor khas ludruknya, ia mendapatkan banyak penggemar, terutama dari kalangan grass-root. Snapshot pada kondisinya saat itu memperlihatkan gambaran seorang Agung yang dipantau dari atas (oleh manajemen) sebagai the rising star, dari samping (oleh rekan sejawatnya, termasuk Bram) banyak menimbulkan decak kagum di satu sisi dan rasa iri di sisi lain, serta dari bawah (grass-root) ia dipuja-puji. Puja dan puji dari grass-root ini turut membangkitkan semangat heroisme Agung ketika manajemen perusahaannya berencana melakukan PHK masal pada staf sekuriti. Hal ini bermula dari penilaian manajemen bahwa akan lebih efisien jika kebutuhan terhadap staf sekuriti dilimpahkan kepada pihak ketiga (outsource). Perihal lebih efisien Agung dan rekan sejawatnya secara teknis sepakat. Hanya saja, secara non teknis Agung merasa kurang manusiawi. Pendapat ini sudah dilontarkannya dalam rapat dengan pihak manajemen, hanya saja dengan berbagai pertimbangan yang ada hasil rapat memutuskan untuk tetap berjalan pada rencana semula.

Jelas, Agung tidak puas dengan hasil rapat tersebut dan secara bergerilya ia mencari dukungan ke sana ke mari. Pihak manajemen yang mencium gelagat ini kontan menghadiahi Agung dengan teguran berupa SPK-1 karena kebijakan yang sudah ditetapkan melalui rapat dan masih belum disosialisasikan ini kadung disosialisasikan secara ’berbeda’. Aksi heroik ini hanya salah satu dari sekian ’trouble’ sebagai akibat ’kreativitas lebih’ Agung yang dinilai manajemen tidak tepat waktu dan sasarannya. Kompetensi teknis Agung yang di atas rata-rata, dalam perspektif manajemen, belum diimbangi oleh kedewasaan dan kematangan pribadi sehingga seringkali menjadi kontraproduktif. Padahal semakin tinggi suatu posisi, maka kompetensi non teknis makin diperlukan. Walhasil perkembangan karir Agung berjalan tersendat. Tiga tahun sejak promosinya menjadi senior barulah ia dapat mencicipi posisi manajer.

Pada saat Agung menanjak karirnya, Bram masih tertinggal. Lantas bagaimana kondisinya tiga tahun kemudian, apakah masih tertinggal di belakang Agung? Ternyata tidak, pencapaian karir Bram justru sudah melampaui pencapaian karir Agung. Kenapa bisa demikian? Berkaca pada Agung, Bram sadar diri bahwa secara teknis kemampuannya bukan yang terhebat. Untuk itu ia mengembangkan sisi lain kemampuannya, terutama bagian soft-nya. Keluwesan dan kemampuan interpersonal Bram yang disertai cukup kerendah-hatian menjadikannya lancar dalam pergaulan. Ia juga memahami denyut ritme dan irama kehidupan di lingkungan kerjanya, termasuk mengetahui kemana angin bertiup. Berbeda dengan Agung yang cenderung kaku, dengan pemahaman dan keluwesan ini Bram dapat secara leluasa menempatkan diri. Dengan demikian ia dapat sukses membangun jejaring dan melakukan lobbying. Seiring berjalannya waktu, pada saat Agung mencapai posisi manajer, Bram sudah dapat menduduki posisi senior manajer.

Dengan pencapaian ini seolah ada pesan tidak langsung yang hendak disampaikannya pada Agung, ”Sorry Gung, hari gini skill saja tidak cukup!”

Jurus marketing ‘narkoba’ a la Tung Desem Waringin

Posted in motivasi on November 22, 2007 by abufarros

 2332.jpg

Jurus marketing ‘narkoba’ a la Tung Desem Waringin

Oleh: Mia Chitra Dinisari 

Kerasnya hidup, tak melulu mengantarkan seseorang pada kesengsaraan. Karena kerasnya hidup pun kerap menjadi pemicu kesuksesan seseorang. Hal itulah yang dialami motivator nomor satu Indonesia Tung Desem Waringin. Dengan mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek, dipadu dengan celana pendek, Tung yang ditemui Bisnis Uang usai sarapan dengan keluarganya, bercerita tentang kesuksesannya yang cukup fenomenal itu. Berawal dari kesulitan hidup yang terus menderanya, Tung mampu bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Prinsip hidup yang terus dipegang pria kelahiran Solo, 22 Desember 1967 ini, adalah mencari nikmat dan menghindari sengsara dalam hidup. “Pada dasarnya, semua orang berusaha mencari nikmat, dan menjauhi sengsara,” tandas pria yang selalu terlihat ramah ini, tentang filosofi hidupnya. Kelemahan selalu dijadikannya sebagai kelebihannya. Selepas SMU, Tung diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, di Fakultas Ekonomi, jurusan Studi Pembangunan. Merasa salah jurusan, lalu ia mendaftar ke Fakultas Hukum (FH) UNS jurusan Hukum Perdata. Meskipun hares berkutat di dua fakultas sekaligus, namun Tung tetap meraih sukses baik dari segi akademis, hingga meraih juara tenis meja dan juara panco. ‘Montir’ dadakan Lulus kuliah, Tung yang sempat menjadi salesman emas toko sang kakak, mulai kelimpungan mencari pekerjaan. Akhirnya pada 1992 menjadi akhir penantiannya sebagai pengangguran, ketika ia diterima di Bank BCA. Di perusahaan ini, ia bagaikan ‘montir’ bagi anak cabangnya yang tengah kolaps. Tak kurang dari beberapa cabang perusahaan yang ‘rusak’ berhasil diperbaikinya. Hasilnya, Surabaya memperoleh hasil audit terbaik di seluruh Indonesia, dari nomor 20 menjadi nomor satu. “Selain Surabaya, beberapa cabang juga berhasil saya perbaiki manajemennya,” cerita suami dari Suryani Untoro ini tentang profesinya sebagai montir dadakan itu. Meskipun dianggap sukses di perusahaan ini, namun Tung mulai merasa kehilangan sesuatu. Ketika sang ayah harus menjalani pengobatan di Mount Elisabeth Singapura, gaji Tung dalam sebulan, ternyata tak mampu menutupi biaya pengobatan ayahnya dalam satu hari. Saat inilah ia mulai merasakan kegundahan hatinya. Dengan tekadnya yang bulat, Tung mengundurkan diri dari BCA, dan beralih sebagai senior vice president marketing di LippoShop. Namun tak bertahan lama, is kembali mengundurkan dirii dari perusahaan tersebut. Berbekal hasil bacaannya sewaktu menunggui sang ayah selama menjalani masa perawatan, Tung mulai tertarik pada dunia marketing. Kekagumannya pada master marketing dunia Anthony Robbins membuatnya nekat mengikuti seminar Anthony Robbins di Singapura, yang biayanya sebesar US$ 10.000. Sukses menjadi salah satu murid terbaik Anthony Robbins sekaligus terpilih sebagai Exclusive Indonesia Anthony Robbins Authorized Consultant, Tung mulai haus akan ilmu marketing. Ia pun mulai berguru pada banyak ahli marketing seperti Robert G. Allen, pakar marketing terkemuka dunia, dan Robert T Kiyosaki yang juga sahabatnya itu memberikannya gelar sebagai Exclusive Indonesia Robert T. Kiyosaki Authorized Consultant. Jurus’narkoba’ Sukses teru diraih ayah dari Tung Waldo Kamajaya (7), Tung Alta Kania (4), dan Tung Tiago Masimo (6 bulan). Jurus marketing ‘narkoba’ adalah kunci kesuksesan pria yang memiliki nilai hidup bijaksana, sehat, kaya, keluarga, dan ceria ini. Loh koq? “Yah ibarat narkoba, awalnya kita kasih gratis, selanjutnya mereka akan ketagihan, dan akhirnya produk kita akan laku,” tawa pria yang saat ini menjadi pengasuh acara Smart Wealth di radio Smart FM ini. Selain jurus narkoba tadi, Tung juga selalu menerapkan sistem street marketing dalam kehidupan bisnisnya. Buktinya? Buku Financial Revolution yang diterbitkannya, mampu meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil terjual 10 ribu kopi hanya dalam sepuluh hari saja. Banyak teori marketing yang sangat bagus namun jarang sukses, karena mereka kerap melupakan sistem street marketing ini, kata Tung. “Karena umumnya, teori bisa berbalik sangat jauh dengan praktik di lapangan,” urai Tung. Kekuatan tentukan segalanya Pernahkah sukses mengalami kondisi stuck dalam hidupnya? Sering! Namun, saat ia sedang tak mood, maka satu hal yang selalu dilakukannya adalah dengan merusak pola emosi, dan juga pola gerak tubuhnya. “Kalau emosi kita sedang tak stabil kita harus menciptakan pola gembira,” tutur Tung sembari mengajak kami mempraktikkan salah satu pola gerak yang bisa merusak emosi. Karena kemampuan tersebut, maka Tung juga bukan hanya dikenal sebagai si sales magic, namun juga orang yang bisa membantu kesuksesan seseorang dari segi psikologis. “Banyak juga orang yang saya sembuhkan dari phobia-phobia. Seperti takut ketinggian, takut naik pesawat dan phobia lainnya,” cerita Tung lagi. Kekuatannya tersebut, menurut pria yang selalu menciptakan seminar bahagia ini, muncul dari kekuatan kata-kata yang terus diucapkannya. “Pada dasarnya, semua muncul karena kekuatan kata-kata,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa jika setiap kali kita mengucapkan kata bodoh pada seseorang, maka lambat laun orang itu akan menjadi bodoh. “Begitu juga kalau kita mengucapkan kata-kata pintar pada orang itu,” tutup pria yang telah mengajarkan dunia bisnis dan keuangan sejak dini pada anak-anaknya itu. (*)  Sumber: tabloid bisnis uang 

CUSTOMER FOCUS

Posted in management on November 22, 2007 by abufarros

57007.jpg 

CUSTOMER FOCUS: JANGAN HANYA RETORIKA 

Oleh : Eva Z. Yusuf, Ph.D.(*) (Artikel ini pernah dimuat di majalah Info BCA No: 153, edisi Maret 2006)  

Pentingnya memusatkan diri pada keinginan dan kebutuhan pelanggan merupakan hal yang sudah diketahui oleh banyak perusahaan di Indonesia dewasa ini. Hubungan antara fokus pada pelanggan dengan tingkat kepuasan pelanggan juga sudah disadari oleh sebagian besar service provider. Begitu juga hubungan kausal antara kepuasan dengan tingkat keuntungan yang dapat diraih oleh perusahaan, pastilah juga sudah sangat disadari. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak perusahaan di Indonesia saat ini sangat concern dengan pencapaian kepuasan pelanggan, yang antara lain ditunjukkan dengan keberhasilannya dalam meraih berbagai penghargaan yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan.  Banyak survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga atau perusahaan di Indonesia menunjukkan bahwa perusahaan yang memperhatikan keinginan dan kebutuhan pelanggannya dapat memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik dibandingan perusahaan lain. Kualitas pelayanan yang lebih baik inilah yang kemudian akan berkontribusi pada tingkat kepuasan pelanggan. Jadi, hubungan “fokus pada pelanggan-kualitas pelayanan – tingkat kepuasan” merupakan rantai yang memang sudah terbukti secara empiris.  Kesadaran akan keharusan berfokus pada pelanggan mendorong berbagai service provider terus berbenah diri. Pembenahan dari sisi 3p – process, people, dan physical evidence menjadi kecenderungan saat ini. Oleh karena hampir semua service provider juga melakukan hal yang sama, tampaknya semakin sulit saja upaya untuk menjadikan ke 3p tersebut sebagai sumber diferensiasi.  Hampir semua service provider berupaya memberikan proses yang convenience kepada pelanggannya. Berbagai cara atau saluran digunakan untuk memberikan kemudahan tadi. Berbagai atribut physical evidence seperti fisik gedung, atmosfer atau suasana di dalam dan di luar gedung, seragam karyawan, peralatan, dan lain-lain, juga secara sungguh-sungguh sudah dirancang oleh para service provider, agar pelanggan dapat menikmati berbagai proses yang dilaluinya selama bertransaksi. Lalu bagaimana dengan unsur people-nya?  Proses yang dirancang untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada pelanggan terkadang tidak dapat di-deliver sebagaimana mestinya akibat dari kualitas people yang men-delivernya. Physical evidence yang dirancang untuk memberikan kesan tertentu dan memberikan kenyamanan kepada pelanggan, menjadi seperti tidak ada nyawanya, juga akibat kualitas people yang men-delivernya. Jadi dapat dikatakan di sini bahwa unsur people atau manusia merupakan kunci. Faktor manusia dapat menjadi sumber diferensiasi.  Dengan demikian, upaya pembenahan people perlu dijadikan fokus dari para service provider jika perusahaan tersebut ingin fokus kepada pelanggannya. Tidak mungkin terjadi “fokus pada pelanggan” tanpa didahului oleh “fokus pada karyawan.” Oleh karena itu, jika kita bicara “fokus pada pelanggan” maka konteks seharusnya adalah pada “pelanggan internal dan eksternal.” Dalam hal ini terkadang perusahaan lupa. Ia terlalu banyak berkonsentrasi pada pelanggan eksternal, kurang memperhatikan pelanggan internalnya.  Budaya membangun service culture pada pelanggan internal sudah seharusnya menjadi tujuan perusahaan yang ingin customer focus. Membangun service culture ini tidak cukup hanya melalui pelatihan-pelatihan singkat, apalagi yang dilakukan sesaat menjelang adanya kontes kepuasan pelanggan. Terasa hanya tujuan sesaat.  Pada awalnya, pendekatan top down merupakan cara yang efektif dalam membangun service culture ini. Artinya, kesadaran dan contoh teladan harus datang dari pucuk pimpinan, disemaikan ke bawah dengan berbagai media penyampaian. Membangun service culture ini harus dipandang sebagai sesuatu yang stratejik sifatnya. Oleh karena itu, dorongan dari atas akan sangat efektif. Baru setelah mulai berjalan, empowerment of employees menjadi tahap berikutnya. Memberikan keleluasaan pada karyawan pada batas tertentu akan mendorong karyawan berkreasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Dari dua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa membangun service culture bukanlah upaya instan yang akan memberikan hasil instan pula. Ini yang penting disadari.  Service culture harus dibangun dalam tubuh perusahaan secara keseluruhan. Tidak hanya pada frontliners. Banyak service provider yang mengira dengan melatih para frontliners agar dapat memiliki budaya melayani, berarti tugasnya sudah selesai. Padahal, para fronliners ini tidak mungkin dapat melakukan tugasnya dengan baik tanpa adanya dukungan dari back office yang juga memiliki orientasi yang sama.  Satu hal yang rasanya perlu dicermati oleh para service provider saat ini, khususnya industri perbankan, yaitu: adanya pola outsource karyawan, terutama karyawan yang menjadi garda terdepan perusahaan. Dengan pola ini, di satu sisi memang perusahaan dapat mencapai efisiensi yang diinginkan, namun di sisi lain ada risikonya. Karyawan ousource ini belum tentu dapat menghayati nilai-nilai perusahaan, apalagi memahami secara utuh service culture yang dibangun oleh perusahaan. Akibatnya, service delivery-nya belum tentu optimal, atau dengan kata lain, belum mencapai standar kualitas yang telah ditetapkan. Inilah yang terkadang merupakan salah satu sebab dari timbulnya over promise-under delivery.  Membangun service culture perlu didukung dengan pola reward dan punishment yang jelas dan memadai. Menuntut karyawan memiliki budaya melayani tanpa adanya penghargaan yang baik, tidak akan efektif. Karyawan hanya akan menjadi mediocre, melayani seadanya dan secukupnya, karena memang kurang termotivasi.  Customer focus, pada akhirnya, bukanlah semata sebuah slogan pembangkit semangat perusahaan dan para karyawannya, yang didengungkan di berbagai momen internal perusahaan. Customer focus bukanlah suatu retorika, yang hanya dicanangkan untuk mencapai tujuan sesaat. Customer focus sesungguhnya adalah nadi suatu perusahaan, yang denyutnya harus terasa terus selama perusahaan hidup dan berkembang.  (*) Core Faculty of PPM Graduate School of Management & Head of PPM Management Research Division

Iman dan Amal Shalih

Posted in religi on November 19, 2007 by abufarros

Iman dan Amal Sholeh, Faktor Menggapai Kehidupan Bahagia  Ketenangan hati, kebahagiaannya dan hilangnya kegundahan adalah keinginan setiap orang. Dengan itulah kehidupan yang baik, perasaan senang dan tenteram dapat dicapai. Dan untuk mendapatkan itu semua ada beberapa faktor yang harus dipenuhi. Ada faktor diniyah (keagamaan), faktor alami dan faktor amaliah (amal, pekerjaan). Hanya orang-orang mu’min saja yang mampu memenuhi tiga faktor tersebut. Adapun selain orang-orang mu’min, maka, kalaupun dari satu segi, sebagian dari faktor-faktor tersebut dapat dicapai dengan jasa dan usaha para cendekiawan mereka; akan tetapi banyak segi-segi lain yang lebih bermanfaat, lebih kuat dan lebih baik -baik jangka pendek atau jangka panjang- yang tidak mampu mereka dapatkan Faktor paling penting dan paling mendasar untuk menggapai bahagia adalah: Iman dan amal shalih. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh-nya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl: 97)  Dalam ayat ini Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberitakan dan menjanjikan bagi orang yang dapat mengumpulkan antara iman dan amal shalih untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia ini dan balasan yang baik pula di dunia dan akhirat.  Sebabnya sudah jelas, karena orang yang beriman kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan iman yang benar yang dapat membuahkan amal shalih dan dapat memperbaiki kondisi hati, moral (tingkah lakunya), atau urusan keduniaan dan akhiratnya, berarti dia sudah mem-punyai pondasi dan dasar yang kuat untuk menghadapi segala kemungkinan. Kemungkinan baik yang mendatang-kan kebahagiaan dan kesenangan atau kemungkinan bu-ruk yang dapat mendatangkan kegoncangan, kesumpekan dan kesedihan.  Kebahagiaan dan kesenangan mereka sambut dengan menerimanya, mensyukurinya dan mempergunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Dan bila mereka berhasil menerima dan mempergunakannya dengan cara semacam itu, maka akan timbullah sebagai buahnya –dari akumulasi suka cita dan keinginan untuk mempertahankan kebera-daan dan keberkahan nikmat tersebut serta harapan untuk memperoleh pahala syukur– hal-hal besar lainnya yang kebaikan dan keberkahannya melebihi kebahagiaan dan kesenangan yang pertama.  Begitu pula dengan cobaan, kemudharatan, kesempitan dan keruwetan. Yang mampu dia atasi dia pecahkan, yang hanya dapat dia minimalisasi dia lakukan dan yang tidak boleh tidak harus dia hadapi dia hadapi dengan kesabaran. Dan sebagai dampak dari akumulasi ‘kemampuan meng-hadang ujian plus percobaan dan kekuatan’ juga akumulasi dari ‘kesabaran plus pengharapan akan pahala’ maka mereka akan mendapatkan hal-hal besar lainnya yang dengan hal-hal tersebut semua ujian dan cobaan apapun tidak akan terasa bahkan akan berubah menjadi kese-nangan dan harapan-harapan baik serta keinginan untuk mendapatkan karunia dan pahala dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Seperti yang diungkapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda, yang artinya: “Sungguh luar biasa urusan seorang mu’min itu. Sesungguh-nya setiap urusannya (akan mendatangkan) kebaikan. Bila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan (syukur) itu adalah kebaikan untuknya. Bila dia mendapatkan musibah, dia bersabar dan (sabar) itu adalah kebaikan untuknya. Hal itu tidak (diberikan) untuk siapa pun kecuali untuk seorang mu’min.” (HR: Muslim)  Dalam hadits ini Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa seorang mu’min akan dilipat-gandakan kebaikannya dan buah amal-amalnya dalam kondisi yang dia hadapi, dalam kondisi nikmat atau musibah.  Oleh karena itu, anda bisa mendapati dua orang yang mendapatkan ujian yang sama atau nikmat yang sama, tetapi ternyata, keduanya berbeda dalam cara mengha-dapinya. Hal itu kembali pada perbedaan keduanya dalam kualitas iman dan amal shalihnya.  Yang satu dapat menghadapi kondisi nikmat atau musibah dengan syukur dan sabar, sehingga dia merasa senang dan suka cita. Sementara kesumpekan, keruwetan, kegundahan, perasaan sempit dada dan kesulitan hidup juga akan hilang, dan akhirnya dia bisa mendapatkan kehidupan yang baik di dunia ini.  Adapun orang satunya lagi, dia sambut kondisi nikmat dengan keangkuhan, menolak kebenaran dengan kezha-liman, sehingga moral dan tingkah lakunya menjadi melenceng. Dia sambut kondisi nikmat itu seperti hewan, dengan penuh tamak dan loba. Walaupun demikian, hatinya tetap tidak merasa tenang bahkan terasa seperti dicabik-cabik dari segala penjuru. Dia khawatir kalau apa yang dia nikmati hilang, dia khawatir akan banyaknya tantangan-tantangan yang timbul menghadangnya, dia khawatir dan tidak tenang. Karena hawa nafsu itu tidak akan berhenti pada batas tertentu, tapi dia akan terus ingin mendapatkan yang lainnya lagi yang barangkali bisa dia raih, bisa juga tidak. Kalau berhasil diraih, kekhawatiran-kekhawatiran yang pertama tadi akan menghampirinya. Dia juga akan sambut musibah yang menghadangnya dengan kegoncangan, kegundahan, rasa takut dan jengkel. Bila sudah demikian, jangan tanyakan lagi bagaimana dia akan ditimpa kesulitan hidup, ditimpa penyakit-penyakit saraf dan perasaan takut yang mengkhawatirkan. Karena dia saat itu tidak mengharapkan pahala dari Allah dan tidak punya kesabaran yang dapat menghibur dan membuat penderitaannya berkurang.  Hal di atas dapat kita saksikan sendiri dalam kenyataan. Bila anda renungi kondisi orang-orang sekarang ini, anda akan melihat bahwa perbedaan yang besar antara seorang mu’min yang bekerja dan bertindak dengan konsekwensi keimanannya dengan yang tidak demikian, yaitu bahwa agama itu sangat mendorong dan menganjurkan agar orang bersifat qona’ah (menerima) dengan rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala, karunia dan kemurahanNya yang bermacam ragam.  Seorang mu’min –bila ditimpa penyakit, kefakiran dan berbagai musibah yang dapat menimpa setiap orang– dengan keimanannya, juga dengan sifat qona’ah dan kerelaannya atas apa yang diberikan Allah kepadanya, dia akan tetap terlihat tenang. Hatinya tidak menuntut men-capai sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya dan tidak melirik kepada orang yang berada di atasnya. Dan barangkali kebahagiaan, kesenangan dan ketenangannya melebihi orang yang berhasil meraih tuntutan-tuntutan duniawinya tetapi tidak qana’ah.  Sebagaimana anda juga dapat menyaksikan orang yang bertindak dan beramal tidak sesuai dengan konsekwensi keimanan, bila ditimpa sedikit kekurangan atau tidak ber-hasil meraih sebagian tuntutan duniawinya, dia merasa di puncak kesengsaraan dan kesusahan. Contoh lain, apabila terjadi hal yang menakutkan atau hal-hal yang mengganggu lainnya, anda akan lihat bahwa orang yang benar iman-nya, hatinya kuat, jiwanya tenang, dia mampu mengurus dan menjalani apa yang menimpanya dengan kemampuan pikiran, perkataan dan amalnya. Semua itu akan memper-kuat dirinya bila berhadapan dengan gangguan atau musibah yang menimpanya. Kondisi semacam inilah yang dapat menenangkan manusia dan menguatkan hatinya.  Sebaliknya kondisi orang yang tidak mempunyai iman, bila terjadi suatu hal yang menakutkan, hatinya gundah, urat sarafnya menegang, pikirannya kacau, rasa takut dan khawatir masuk ke dalam dirinya. Berkumpullah pada diri-nya perasaan takut dari luar dengan kegoncangan batinnya yang sulit untuk diketahui hakikatnya. Orang dengan tipe semacam itu –bila tidak didukung faktor-faktor alamiah dengan banyak latihan– akan kehilangan semangat dan stres. Sebab dia tidak mempunyai iman yang dapat mendorongnya bersikap sabar, khususnya dalam kondisi-kondisi tegang dan menyedihkan.  Orang baik dan orang jahat juga orang mu’min dan orang kafir, sama-sama berpotensi untuk belajar dan bisa berani. Juga sama-sama mempunyai potensi kejiwaan yang dapat melunakkan dan meringankan hal-hal yang menakut-kan. Hanya saja, seorang mu’min mempunyai keunggulan dengan imannya, kesabaran dan tawakkalnya kepada Allah serta harapannya untuk mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal-hal inilah yang menambah rasa keberaniannya, memperingan beban takutnya juga me-ringankan musibah yang menimpanya. Seperti difirman-kan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula) sebagaimana kamu menderita-nya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS: An-Nisa’: 104)  Selain itu dia akan mendapatkan pertolongan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan ‘kebersamaanNya’. Dan hal itu dapat menghancurkan perasaan takutnya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar.” (QS: Al-Anfal: 46)  Termasuk di antara faktor-faktor yang dapat menghilangkan kesedihan, musibah dan kegoncangan hati adalah: Berbuat baik kepada makhluk, baik dengan per-kataan, perbuatan dan berbagai macam perbuatan baik lainnya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan menolak kesedihan dan musibah dari orang shalih dan orang yang jahat sesuai dengan perbuatan baik yang dilakukan. Hanya saja bagi seorang mu’min akan mendapatkan porsi yang lebih sempurna. Dan yang membedakan seorang mu’min dari yang lainnya, bahwa kebaikan yang dia lakukan didorong oleh keikhlasan dan harapan mendapatkan pahala dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan hal itu memudahkan baginya mendapatkan kebaikan yang dia inginkan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga akan menolak hal-hal yang tidak dia sukai karena berkah keikhlasan dan harapan mereka akan pahalaNya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS: An-Nisa’: 114)  Dalam ayat ini, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menginformasikan bahwa hal-hal yang disebutkan tadi semuanya akan bernilai kebaikan bagi orang yang melakukannya. Dan sebuah kebaikan biasanya mendatangkan kebaikan serta menolak keburukan. Seorang mu’min yang hanya mengharapkan pahala Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan mendapatkan balasan yang besar yang di antaranya adalah dalam bentuk hilangnya kesedihan, musibah, dan hal-hal yang mengganggu lainnya. (Sumber Rujukan: MENGGAPAI KEHIDUPAN BAHAGIA, Oleh: SYAIKH ABDURRAHMAN BIN NASHIR AS-SA’DY)  

Kekayaan yang Tiada Habisnya

Posted in religi on November 19, 2007 by abufarros

6225.jpg 

Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau memilikinya?  

 “Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona’ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya.” Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya.”  Qona’ah – merasa cukup dengan apa yang ada- sebuah kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di zaman ini, dimana kita melihat begitu banyak manusia mengalami “kegilaan” terhadap dunia beserta isinya. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya untuk mewujudkan kekayaan yang tiada habisnya ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah qona’ah; kamu akan tenang hidupnya”; atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Fondasi Sifat Qona’ah Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya ini.  Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.  Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.  Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.  Inginkah Engkau memiliki harta itu? Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, qona’ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita  Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini:  1. Ilmu agama Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qona’ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi. “Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am:32)  Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa ‘Ala dengan seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan sifat qona’ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.  2. Keimanan yang mantap Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.  3. Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak zaman azali.{embagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. Jika kita memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan harta, tidak akan menambah rizki, (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona’ah, tenang, rileks terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya maupun miskin. Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qodha dan qodar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujian bagi orang kaya engan kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan bukti mengenai perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Azza wa Jalla.  “Apakah mereka yang membagi-bagi rahamt Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az Zukhruf:32)  “Bersikaplah ridho terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR.Ahmad)  4. Perjuangan Mental dan Bersabar Sesuai dengan kebijaksanan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan.(Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.  “Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” (HR.Muslim)  Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi besar yang mendorong pemilikinya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri kepada apa yang diharamkan oelh Allah serta tidak puas dengan yang telah dihalalkan oelh Alloh, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.  Mengendalikan nafsu dan memaksanya memiliki sikap qona’ah membutuhkan kesabaran dan ketabahan dari seorang mukmin. Kesabaran di sini berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang meragukan; karena sifat qona’ah menuntut sikap zuhud, ridho, dan waro’. Sabar dalam ketaatan dan tidak berbuat maksiat.  5. Berdoa dan Memohon kepada Allah “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.” (HR.Muslim)  Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullah, berkata:”Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. ‘Afaf (sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Alloh, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu, sempuralah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).  6. Menjauhi Orang-Orang yang Suka Berkeluh Kesah Teman, kawan, orang-orang di sekitar kita, sangat besar pengaruhnya pada diri kita. Siapa yang lama berkawan dengan orang-orang yang suka berkeluh kesah dan ambisius, maka akan tertimpa penyakit mereka. Hawa nafsu dan akhlak mereka akan menular kepada dirinya. Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang sholih, senantiasa berdzikir, zuhud (sekalipun mereka adalah orang-orang kaya dan lapang), akan mendorong kita mengikuti mereka: memiliki sifat qona’ah, zuhud, menerima dengan senang hati semua rizki yang telah dibagikan oleh Allah.  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya.”  7. Melihat yang “di bawah” “Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR.Bukhari-Muslim)  Manusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya utnuk mencintai harta dan dunia. (terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.  Namun, nikmat dan karunia yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita, terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang… kita tidak peduli dan tidak menyadari nilainya… Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.  Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang yang ada “dibawah” kita… atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut (misal: nikmat sehat)… baru kita merasakan nikmat-nikmat itu… barulah kita merasa tenang; oleh karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya sifat qona’ah adalah melihat orang yang keadaannya “dibawah” kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karena itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah.” (HR.Bukhori)  Inilah beberapa cara untuk menumbuhkan sifat qona’ah dan menerima dengan senang hati rizki dan penghidupan yang telah dibagikan Allah kepada setiap kita.  Penutup Pengetahuan tentang hal ini bukan semata-mata pengetahuan ilmiah naratif yang kering dari substansi pelaksanaan yang bisa membedakan antara orang yang bersikap qona’ah atau senantiasa gundah gulana dan berkeluh kesah. Terkadang kita temui, orang yang memiliki sifat qona’ah melimpah ruah tidak hafal dalil-dalil ilmiah dan prinsip-prinsip tersebut selain kandungan makna yang shohih. Dipihak lain, terkadang kita jumpai orang yang mengaku “berilmu” namun tidak memiliki sifat qona’ah sama sekali. Inilah kenyataan yang ada pada kita sekarang ini. Anda ingin menjadi yang mana, wahai Saudaraku? Semoga Allah senantiasa menghiasi diri, keluarga, dan keturunan kita; serta kaum muslimin dengan sifat qona’ah. Amiin.   ——————————————————————————– Referensi: Diringkas dari: “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya” :Syaikh Abdulloh bin Abdul Hamid Al Atsari dari buku: Zuhud Dunia Cinta Akhirat, Sikap Hidup Para Nabi dan Orang-Orang Sholih: Ibnu Rojab Al-Hanbali, dll. Penerbit: Al-Qowam, Solo. Halaman 87-