Arsip untuk wira usaha kategori

Masih Perlukah Manajemen

Posted in wira usaha on Januari 14, 2008 by abufarros

Masih Perlukah Manajemen

Perlukah membaca atau meniru habis-habisan teori-teori manajemen dari para pakar manajemen top dunia seperti Peter F. Drucker atau James Stoner. Bagi sebagian orang, mengenal mereka, berikut karya-karyanya apalagi menjalankan pola-pola yang mereka tawarkan, mungkin buang-buang waktu saja. Jadi, masih perlukah ilmu manajemen? Karena, begini kira-kira alasannya, banyak orang yang jarang atau tidak pernah sekalipun menyentuh karya-karya manajemen, dapat melakukan hal yang terbaik dan mampu menjalankan tugas manajerial berikut antisipasi terhadap berbagai hal sesuai perubahan dan keadaan di lingkungannya. Mereka dapat menjalankan usahanya secara baik, berhasil, dan terus berlanjut. Bahkan ada orang yang setiap waktu mengunyah teori-teori manajemen, tetapi tidak mampu menjalankannya secara baik. Ketersediaan sejumlah teori justru membuka peluang untuk tidak memilih kesemuanya, karena: semuanya baik. Dari sini perdebatan klasik mengenai: apakah manajemen suatu seni yang bersifat subyektif ataukah ilmu yang obyektif. Berhenti pada tataran ini, peran manajemen dalam meningkatkan produktivitas sumber daya organisasi jelas sia-sia. Dengan mengandaikan manajemen sebagai seni (art), sementara seni berhubungan dengan bakat, dan karenanya bersifat alamiah, maka pengetrapan manajemen hanya mungkin bagi mereka yang terlahir memang berbakat. Dengan cara pandang ini, teori manajemen hanya memberikan sejumlah prosedur, atau sebagai pengetahuan yang sulit diterapkan. Karena proses manajamen ditentukan oleh subyektivitas, atau style. Manajemen sebagai ilmu (science) yang obyektif-rasional, bisa dipelajari oleh siapa pun. Bahkan para ilmuwan dengan sangat fasih menguraikan teori-teori manajemen yang dikembangkannya. Tetapi apakah mereka mampu menerapkan dalam lingkup organisasi terkecil, minimal di lingkungan kerjanya, itu soal lain. Teori-teori manajemen hanya memberi sejumlah peluang, atau kemungkinan-kemungkinan, tanpa ada kepastian keberhasilan. Teori manajemen hanya dapat membimbing kepada prestasi dan hasil yang lebih baik. Sebagai ilmu, manajemen dengan sangat sistematis merupakan suatu uraian menyeluruh mengenai konsep-konsep dan langkah-langkah praktis yang siap implimentasi. Garis hubungan yang begini rupa agak sulit ditarik pada suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Banyak orang yang telah dilatih sedemikian rupa, mungkin di tingkat ketrampilan (psikomotorik) dan pengetahuan (kognitif) mendapatkan sejumlah pengalaman baru yang siap-terap. Tetapi di tingkat karakter atau watak, yang mengarah pada bagaimana mengambil keputusan yang diharapkan, belum tentu mengalami kemajuan. Dua kutub ini bukan untuk dipertentangkan. Pertentangan bukan cara memperbaiki kualitas kerja dalam suatu organisasi baik berskala kecil, menengah, ataupun yang besar. Manajemen mesti dipandang positif, dalam batas-batas tertentu. Lantas, bagaimana manajemen bisa berfungsi khususnya untuk usaha kecil? Bagi usaha kecil, manajemen tidak boleh dipandang dengan cara yang aneh, tidak mungkin atau wah. Ketika sudah ada lebih dari lima karyawan dengan fungsi-fungsi yang makin meluas; harta benda, hutang piutang organisasipun makin beragam; transaksi dan jumlah uang yang berputar mencapai puluhan juta rupiah: manajemen sudah diperlukan. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan merupakan suatu cara manajerial untuk mengatasi masalah tersebut secara sistematis; dan bagaimana mendayagunakan sumber daya yang sangat terbatas itu untuk mencapai produktivitas yang lebih tinggi. Tanpa manajemen bukan pula semua masalah itu tidak bisa diatasi. (karena tidak ada yang tidak mungkin). Pada saat tantangan-tantangan luar makin menghebat, sementara persoalan intern tidak termanage dengan baik, maka enjadi hambatan dan bahkan pukulan yang membuat sumber daya kucar-kacir. Karena, setiap orang mengurus hal yang sama; penerimaan dan pengeluaran terjadi tanpa prioritas; atasan dan bawahan mengerjakan mulai yang teknis sampai pengambilan keputusan. Mungkin cara ini hanya baik untuk satu tujuan, untuk satu waktu. Selebihnya semua kehabisan tenaga. Manajemen minimal seperti perencanaan, pengawasan tetap mutlak dibutuhkan.

Sikap yang Benar untuk Memulai Bisnis

Posted in wira usaha on Januari 14, 2008 by abufarros

Sikap yang Benar untuk Memulai BisnisOleh : Pri Notowidigdo Memulai bisnis pribadi merupakan hal yang menakutkan sekaligus menarik. Mengapa? Di satu sisi, ini dapat menimbulkan risiko besar. Di sisi lain, kesempatan besar dalam kehidupan juga menanti. Alhasil, masuk akal bila orang — katakanlah Anda -? menjadi ingin tahu, apa saja sih yang melibatkan diri kita ketika memulai bisnis, dan apa saja yang bisa membuat langkah ini sukses.  Saya punya jawaban untuk hal tersebut: carilah jalan dari beberapa cara konvensional, tidak perlu langsung melakukan cara yang benar. Jadilah orang yang kreatif, fleksibel dan cepat tanggap terhadap perubahan yang terjadi dengan mendapatkan informasi tentang pangsa pasar dan peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi. Bila diamati, orang-orang yang menjalankan bisnis pribadi kerap membicarakan beberapa hal penting. Yang paling sering: Apa tujuan pribadi mereka? Ya, apa sebenarnya tujuan pribadi melakukan hal ini? Mereka juga bertanya, apakah yang saya kehendaki dalam hidup? Di manakah saya berada 10 tahun mendatang? Jenis penghasilan seperti apa yang saya ingini? Di sini, hasur saya nyatakan, tujuan pribadi bukanlah hal sepele. Anda harus memiliki atau mengetahui tujuan pribadi yang benar-benar penting bagi Anda. Ini penting, karena bukankah bisnis itu sesuatu yang menuntut? Jadi, tanyakan pada diri sendiri, apakah sedang melakukan sesuatu yang ingin dilakukan. Tanya juga, apakah Anda bekerja dengan orang-orang yang Anda ingin bekerja sama untuk melakukannya? Apakah pengembalian investasi sudah seperti yang diharapkan? Bila muncul perasaan tidak senang, Anda tidak akan menjadi pengusaha yang baik. Setelah tujuan pribadi, ide bisnis Anda haruslah disertai hasrat pribadi untuk memulai dan mengoperasikannya. Hasrat pribadi mesti menjadi bagian dari apa yang Anda kehendaki dalam hidup. Bila tidak, percayalah, semua ide yang Anda keluarkan tidak berarti sama sekali, dan jangan berharap bisa mengubah bisnis yang ada menjadi bisnis yang sukses. Sekarang, katakanlah Anda tahu tujuan pribadi dan sangat berhasrat. Lantas, dari mana harus memulainya? Jangan pusing. Pengalaman kerja adalah bagian dari ide bisnis. Sebagai contoh, bila Anda ingin membuka restoran dan belum pernah berkecimpung di dunia ini sebelumnya, masuk akal bila Anda bekerja terlebih dulu pada orang lain. Dengan cara ini, Anda akan terhindar dari kesalahan dalam membuat perhitungan biaya. Atau, bahkan tak jadi membuat bisnis resto karena setelah bekerja di situ dan mengerti pengoperasiannya, Anda jadi mengetahui resto bukan jenis usaha yang ingin Anda jalankan sebagai bisnis pribadi. Selain pengalaman, pengetahuan dasar juga salah satu pintu masuk untuk memulai bisnis Anda. Di sini, Anda haruslah memiliki ide atau konsep yang lebih banyak Anda ketahui ketimbang orang lain. Insting atau perasaan bukanlah pengganti untuk pengetahuan. Anda bisa memperoleh pengetahuan dasar ini secara natural dengan memiliki pekerjaan yang relevan atau pengalaman berbisnis. Bisa juga diperoleh dengan banyak bertanya, mendengar, membaca, atau melakukan penelitian. Terlepas dari apakah itu pengalaman atau pengetahuan dasar, yang pasti, pada kebanyakan orang, melimpahnya ide untuk memulai bisnis baru kerap bersumber pada keinginan yang sama: menjadi kaya dengan cepat. Benarkah hal ini? Saya cenderung menyatakan bahwa memulai bisnis dengan sikap seperti itu bukan hal yang benar. Memang uang itu penting. Dan uang akan datang kemudian seperti yang kita ingini setelah melalui usaha yang keras. Namun, bertanyalah pada nurani kita, sebetulnya, penghargaan intrinsik seperti apakah yang akan Anda terima untuk semua usaha Anda? Menurut saya, langkah pertama ketika memulai bisnis pribadi adalah: lakukanlah semua dengan sebaik-sebaiknya! Berikan sesuatu yang dibutuhkan orang. Dengan cara ini, yakinlah Anda akan dihargai terus-menerus meskipun barangkali Anda tidak menghasilkan uang banyak pada awalnya. Saya pikir hal ini merupakan inner vision. Dan, bukankah Anda sendiri tidak bisa selalu dimotivasi untuk menghasilkan profit? Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan bersikap melakukan semua dengan sebaik-baiknya. Sikap ini akan menjadikan Anda memiliki komitmen sukses. Sikap ini juga membuat Anda terus melangkah dari keadaan sekarang untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari sehingga Anda pun bakal menjadi seseorang yang kaya ide, bervisi, dan sanggup menerapkan sesuatu yang lebih baik ketimbang orang yang mungkin Anda lihat merupakan sosok terbaik pada saat ini. Pendek kata, sikap ini menjadikan Anda orang yang tidak puas dengan pekerjaan yang average (rata-rata), melainkan orang yang puas dengan melakukan sesuatu yang besar (superior). Inilah sikap yang penting ketika memulai bisnis pribadi. Dan, kalau Anda merasa memilikinya, Anda pantas memulai bisnis pribadi. Jadi, tunggu apa lagi?  URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/periskop/details.php?cid=1&id=287      

Langkah Memulai Usaha Sendiri

Posted in wira usaha on Januari 14, 2008 by abufarros

Langkah Memulai Usaha Sendiri

 1. START WITH A DREAM Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan.A dream is where it all started: Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosa dalam produk, Cara pelayanan, jasa, ataupun idea yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata ‘tidak bisa’ataupun tidak mungkin’.

2. LOVE THE PRODUCTS OR SERVICES Cintailah Produk anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan mmbuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa masa sulit. Enthusiaatism and Persistence: Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.

3. LEARN THE BASICS OF BUSINESS. Pelajarilah fundamental business. BEYOND THE *BUY LOW, SELL HIGH, PAY LATE, COLLECT EARLY*: Tidak akan ada sukses tanpa ada sebuah pengetahuaan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar – dasar usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik. Carilah –Guru- yang baik.

4. WILLING TO TAKE CALCULATED RISKS. Ambillah resiko. The Gaint that u will be able to achiave is directly propoltional to the risk taken: Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap resiko yang akan diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik – baik akan lebih banyak Memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan -entreprenneur- dengan –manager-. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap –awal- pengembangan perusahaan, dan –manager- dibutuhkan akan mengatur perusahaan yang telah maju.

5. SEEK ADVICE, BUT FOLLOW YOUR BELIEF. Carilah nasehat dari pekarnya, tapi ikuti kata – kata kita. Consult ConsultAnts, ask the experts, but follow, but follow your hearts. Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditagngannya dan dapt diputuskan dengan indera ke enam-nya. Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kkunci suksesnya. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengambangkan usaha pada fase itu.

6. WORK HARD, 7 DAY A WEEK, 18 HOURS A DAY Kerja keras. Ethos Kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh workaholics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bussinessnya. Me-lamun-kan dan memimpikan kerjanya.

7. MAKE FRIENDS AS MUCH AS POSSIBLE Bertemanlah sebanyak banyaknya. Pada harga dan kwalitas yang sama orang membeli dari temannya, pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasehat, membantu menolong pada masa sulit.

8. DEAL WITH FAILURES Hadapi kegagalan. Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha, selama kegagaln itu tidak –mematikan-. Setiap usaha selalu akan mempunyai resiko kegagalan dan bila mana itu sampai terjadi, bersiaplah dan hadapilah!.

9. JUST DO IT, NOW! Lakukanlah sekarang juga. Bila anda telah siap, lakukanlah sekarrang juga. Manager selalu melakukan : READY-AIM-SHOOT,tetapi entrepreneur sejati akan melakukan READY-SHOOT-AIM!. Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita. (Dari milist kebunku@yahogroups.com)

Ketika Wirausaha Kian Belia

Posted in wira usaha on November 22, 2007 by abufarros

57287.jpg           

Enterprise 50 

Ketika Wirausaha Kian Belia

Oleh : Teguh Poeradisastra 

Di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia: pemimpi danpengusaha. Perbedaan di antara keduanya hanya satu: aksi. Jikapemimpi berhenti sebatas angan-angan, wirausaha berusahamewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Mengapa tak memulainyasekarang juga?Awalnya adalah Sambel Tomat, warung gerobak di Jl. Mahakam,Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Modalnya tentu saja sangatbesar.

Jangan salah, maksudnya gagasan besar, kemauan kerasdan semangat berkobar. Modal berupa uang tunainya sih relatif:Rp 15 juta. Dan itu bukan dari kocek satu orang. Uang sejumlahitu dihimpun dari Rene Suhardono Canoneo, Ragil Iman Wibowo,Riko Kasmanda, dan tujuh orang lainnya, masing-masing Rp 1juta. Lantas, Rp 5 juta lainnya pinjaman dari paman Rene. Waktu itu, 1998, mereka masih menyewa tempat di pekaranganRestoran Bakery Nila Chandra. ”Sewanya Rp 500 ribu sebulan,”ujar Rene mengenang.

Kini, tak sampai sewindu kemudian, siapamenyangka warung gerobak mereka telah berubah menjadi jaringanresto. Di bawah PT Trirekan Rasa Utama yang mereka dirikanpada 2003, bernaung sejumlah resto: Dixie Easy Dining (empatdi Jabotabek dan satu di Yogyakarta), Mahi-mahi (dua diJabotabek dan satu di Yogya), RiceBar (Yogya), Warung Pasta(dua di Yogya), Ronin Bistro (Bekasi) serta Asahi JapanesseRestaurant (Jakarta). Total karyawannya kini 230 orang, bahkanakan terus meningkat karena Warung Pasta mulai dikembangkandengan model waralaba. 

Trirekan cuma salah satu dari usaha kecil dan menengah yangmeraih penghargaan Enterprise 50 (E-50). Inilah upayaapresiasi bagi para wirausaha tahan banting yangdiselenggarakan Majalah SWA dan Laboratorium Studi ManajemenFakultas Ekonomi Universitas Indonesia, serta didukungHimpunan Pengusaha Muda Indonesia. Kegiatan ini telah enamkali kami lakukan sejak 2000.

Kami yakin kegiatan seperti inipenting untuk terus menggelorakan semangat kewirausahaan disemua kalangan. Perbedaan antara wirausaha dan pemimpi memang sangat tipis,hanya satu langkah. Keduanya sama-sama mengangankan danmenginginkan sesuatu. Namun, pemimpi berhenti sebatasangan-angan, sedangkan wirausaha berusaha mewujudkan mimpinyamenjadi kenyataan.                  

Modal utama pengusaha bukanlah uang atau koneksi, melainkan kreativitas dan keuletan, semangat pantang menyerah. Banyak penelitian yang mengungkapkan, lebih dari separuh wirausaha rontok sebelum mencapai usia tiga tahun. Ada banyak alasannya, termasuk kehabisan modal. Akan tetapi sesungguhnya, faktor yang lebih menentukan adalah kehabisan semangat dan kreativitas.

Mereka yang memiliki semangat pantang menyerah memandang kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Meski  terantuk dan terjatuh, mereka akan bangkit kembali dengan gagah. Pepatah mengatakan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ini memang pepatah djadoel alias djaman doeloe, tetapi masih  tetap relevan di era sekarang. Lihat saja buktinya: begitu  beragam bidang yang digeluti para penerima penghargaan E-50 untuk mencetak keberhasilan. Mulai dari industri resto hingga jasa keamanan, dari fashion hingga peralatan kantor, dari peranti keras hingga peranti lunak. Skala bisnisnya pun  bervariasi, mulai dari yang beromset di bawah Rp 5 miliar/tahun hingga Rp 100 miliar/tahun.                  

Dengan begitu beragamnya tingkatan peserta ini, agar penilaian menjadi lebih adil, kami mengelompokkan peserta berdasarkan omsetnya: perusahaan dengan omset per tahun > Rp 5-10 miliar, Rp 10-50 miliar, dan di atas Rp 50-100 miliar. Lalu, ada pula kategori Start-up untuk perusahaan yang beroperasi kurang dari tiga tahun dan/atau pengusahanya berusia kurang dari 30 tahun. Selain itu, juga ada penghargaan khusus, yaitu The Most  Established Company, The Best in Branding serta The Most  Innovative Company.   

Di antara para wirausaha tahan banting ini, tak sedikit yang memulai usahanya dengan modal terbatas, seperti Trirekan tadi.  Namun, dengan kreativitas dan passion – perpaduan antara semangat dan kecintaan pada bidang yang digeluti – semua kesulitan tadi bisa diatasi. Kreativitas merupakan salah satu sifat yang sangat dibutuhkan dan menentukan keberhasilan seorang wirausaha. Orang kreatif tak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. 

Mereka akan mengubahnya menjadi peluang. Ini berarti harus ada keberanian mengambil risiko, baik risiko bisnis setiap kali menangani suatu proyek maupun risiko menyeberang kuadran, dari karyawan menjadi usahawan. Namun, berani mengambil risiko bukan berarti nekat dan asal tubruk ketika melihat peluang. 

Naluri saja tidak cukup, perhitungan matang tetap harus dilakukan. Ini berarti seorang wirausaha harus mampu memadukan hati dengan kalkulasi. Syukurlah, kemampuan tersebut sudah dimiliki sebagian wirausaha kita – paling tidak mereka yang terpilih sebagai penerima penghargaan E-50 ini. Sektor bisnis yang digeluti pun tak semata sektor tradisional lagi. Banyak juga yang menggarap sektor masa depan seperti sektor teknologi informasi – misalnya, pembuatan peranti lunak.  

Yang lebih menarik lagi, kini semakin banyak saja wirausaha yang merintis bisnisnya sejak usia awal 20-an tahun. Ada Andy Bogel, pemilik Distro Insomania yang berusia 22 tahun, juga Sujianto (pemilik kursus bahasa Mandarin), artis Irgi Fahrezi yang semuanya masih kinyis-kinyis. Harimin, pemilik Multiplus, jaringan bisnis layanan kantor, pun memulai bisnisnya ketika berusia 22 tahun, begitu lulus dari Universitas Bina Nusantara. Kini Multiplus tumbuh menjadi 88 gerai yang tersebar di 14 kota dan akan segera merangsek ke Singapura dan Cina. Lewat konsep waralaba yang diterapkannya, bisa dipastikan pertumbuhan bisnisnya akan kian meroket.

Bahkan, Asosiasi Franchise Indonesia menganugerahkan Indonesia Franchise Gold 2006 kepadanya. Fenomena kian mudanya entrepreneur fresh from the oven ini menarik dicermati. Pasalnya, hingga beberapa tahun lalu, tak sedikit yang memilih baru terjun setelah usia 40-an tahun. Alasannya, agar bisa menimba ilmu dulu dengan menjadi profesional di bisnis orang lain sebagai fondasi sekaligus pemanasan untuk berkiprah di bisnis sendiri. Sepak terjang para usahawan belia ini pun tak kalah gesit, sehingga kami merasa perlu menampilkan mereka dalam daftar Entrepreneur to Watch. 

Kian maraknya orang yang memilih menjadi wirausaha ini patut disambut gembira dan didukung penuh. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi makro suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan  ekonomi mikronya. Banyaknya dunia usaha akan menciptakan banyaknya lapangan pekerjaan, yang tentunya meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat memiliki daya beli  dan mampu berbelanja. Begitu terus, sehingga roda ekonomi pun bisa terus berputar.