Ketika Wirausaha Kian Belia

Posted: November 22, 2007 in wira usaha

57287.jpg           

Enterprise 50 

Ketika Wirausaha Kian Belia

Oleh : Teguh Poeradisastra 

Di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia: pemimpi danpengusaha. Perbedaan di antara keduanya hanya satu: aksi. Jikapemimpi berhenti sebatas angan-angan, wirausaha berusahamewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Mengapa tak memulainyasekarang juga?Awalnya adalah Sambel Tomat, warung gerobak di Jl. Mahakam,Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Modalnya tentu saja sangatbesar.

Jangan salah, maksudnya gagasan besar, kemauan kerasdan semangat berkobar. Modal berupa uang tunainya sih relatif:Rp 15 juta. Dan itu bukan dari kocek satu orang. Uang sejumlahitu dihimpun dari Rene Suhardono Canoneo, Ragil Iman Wibowo,Riko Kasmanda, dan tujuh orang lainnya, masing-masing Rp 1juta. Lantas, Rp 5 juta lainnya pinjaman dari paman Rene. Waktu itu, 1998, mereka masih menyewa tempat di pekaranganRestoran Bakery Nila Chandra. ”Sewanya Rp 500 ribu sebulan,”ujar Rene mengenang.

Kini, tak sampai sewindu kemudian, siapamenyangka warung gerobak mereka telah berubah menjadi jaringanresto. Di bawah PT Trirekan Rasa Utama yang mereka dirikanpada 2003, bernaung sejumlah resto: Dixie Easy Dining (empatdi Jabotabek dan satu di Yogyakarta), Mahi-mahi (dua diJabotabek dan satu di Yogya), RiceBar (Yogya), Warung Pasta(dua di Yogya), Ronin Bistro (Bekasi) serta Asahi JapanesseRestaurant (Jakarta). Total karyawannya kini 230 orang, bahkanakan terus meningkat karena Warung Pasta mulai dikembangkandengan model waralaba. 

Trirekan cuma salah satu dari usaha kecil dan menengah yangmeraih penghargaan Enterprise 50 (E-50). Inilah upayaapresiasi bagi para wirausaha tahan banting yangdiselenggarakan Majalah SWA dan Laboratorium Studi ManajemenFakultas Ekonomi Universitas Indonesia, serta didukungHimpunan Pengusaha Muda Indonesia. Kegiatan ini telah enamkali kami lakukan sejak 2000.

Kami yakin kegiatan seperti inipenting untuk terus menggelorakan semangat kewirausahaan disemua kalangan. Perbedaan antara wirausaha dan pemimpi memang sangat tipis,hanya satu langkah. Keduanya sama-sama mengangankan danmenginginkan sesuatu. Namun, pemimpi berhenti sebatasangan-angan, sedangkan wirausaha berusaha mewujudkan mimpinyamenjadi kenyataan.                  

Modal utama pengusaha bukanlah uang atau koneksi, melainkan kreativitas dan keuletan, semangat pantang menyerah. Banyak penelitian yang mengungkapkan, lebih dari separuh wirausaha rontok sebelum mencapai usia tiga tahun. Ada banyak alasannya, termasuk kehabisan modal. Akan tetapi sesungguhnya, faktor yang lebih menentukan adalah kehabisan semangat dan kreativitas.

Mereka yang memiliki semangat pantang menyerah memandang kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Meski  terantuk dan terjatuh, mereka akan bangkit kembali dengan gagah. Pepatah mengatakan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ini memang pepatah djadoel alias djaman doeloe, tetapi masih  tetap relevan di era sekarang. Lihat saja buktinya: begitu  beragam bidang yang digeluti para penerima penghargaan E-50 untuk mencetak keberhasilan. Mulai dari industri resto hingga jasa keamanan, dari fashion hingga peralatan kantor, dari peranti keras hingga peranti lunak. Skala bisnisnya pun  bervariasi, mulai dari yang beromset di bawah Rp 5 miliar/tahun hingga Rp 100 miliar/tahun.                  

Dengan begitu beragamnya tingkatan peserta ini, agar penilaian menjadi lebih adil, kami mengelompokkan peserta berdasarkan omsetnya: perusahaan dengan omset per tahun > Rp 5-10 miliar, Rp 10-50 miliar, dan di atas Rp 50-100 miliar. Lalu, ada pula kategori Start-up untuk perusahaan yang beroperasi kurang dari tiga tahun dan/atau pengusahanya berusia kurang dari 30 tahun. Selain itu, juga ada penghargaan khusus, yaitu The Most  Established Company, The Best in Branding serta The Most  Innovative Company.   

Di antara para wirausaha tahan banting ini, tak sedikit yang memulai usahanya dengan modal terbatas, seperti Trirekan tadi.  Namun, dengan kreativitas dan passion – perpaduan antara semangat dan kecintaan pada bidang yang digeluti – semua kesulitan tadi bisa diatasi. Kreativitas merupakan salah satu sifat yang sangat dibutuhkan dan menentukan keberhasilan seorang wirausaha. Orang kreatif tak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. 

Mereka akan mengubahnya menjadi peluang. Ini berarti harus ada keberanian mengambil risiko, baik risiko bisnis setiap kali menangani suatu proyek maupun risiko menyeberang kuadran, dari karyawan menjadi usahawan. Namun, berani mengambil risiko bukan berarti nekat dan asal tubruk ketika melihat peluang. 

Naluri saja tidak cukup, perhitungan matang tetap harus dilakukan. Ini berarti seorang wirausaha harus mampu memadukan hati dengan kalkulasi. Syukurlah, kemampuan tersebut sudah dimiliki sebagian wirausaha kita – paling tidak mereka yang terpilih sebagai penerima penghargaan E-50 ini. Sektor bisnis yang digeluti pun tak semata sektor tradisional lagi. Banyak juga yang menggarap sektor masa depan seperti sektor teknologi informasi — misalnya, pembuatan peranti lunak.  

Yang lebih menarik lagi, kini semakin banyak saja wirausaha yang merintis bisnisnya sejak usia awal 20-an tahun. Ada Andy Bogel, pemilik Distro Insomania yang berusia 22 tahun, juga Sujianto (pemilik kursus bahasa Mandarin), artis Irgi Fahrezi yang semuanya masih kinyis-kinyis. Harimin, pemilik Multiplus, jaringan bisnis layanan kantor, pun memulai bisnisnya ketika berusia 22 tahun, begitu lulus dari Universitas Bina Nusantara. Kini Multiplus tumbuh menjadi 88 gerai yang tersebar di 14 kota dan akan segera merangsek ke Singapura dan Cina. Lewat konsep waralaba yang diterapkannya, bisa dipastikan pertumbuhan bisnisnya akan kian meroket.

Bahkan, Asosiasi Franchise Indonesia menganugerahkan Indonesia Franchise Gold 2006 kepadanya. Fenomena kian mudanya entrepreneur fresh from the oven ini menarik dicermati. Pasalnya, hingga beberapa tahun lalu, tak sedikit yang memilih baru terjun setelah usia 40-an tahun. Alasannya, agar bisa menimba ilmu dulu dengan menjadi profesional di bisnis orang lain sebagai fondasi sekaligus pemanasan untuk berkiprah di bisnis sendiri. Sepak terjang para usahawan belia ini pun tak kalah gesit, sehingga kami merasa perlu menampilkan mereka dalam daftar Entrepreneur to Watch. 

Kian maraknya orang yang memilih menjadi wirausaha ini patut disambut gembira dan didukung penuh. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi makro suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan  ekonomi mikronya. Banyaknya dunia usaha akan menciptakan banyaknya lapangan pekerjaan, yang tentunya meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat memiliki daya beli  dan mampu berbelanja. Begitu terus, sehingga roda ekonomi pun bisa terus berputar.   

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s