SEBERAPA WIRAUSAHA KAH ANDA?

Posted: November 22, 2007 in management

57245.jpg 

SEBERAPA WIRAUSAHA KAH ANDA? Banyak orang terjun ke dunia usaha, lalu menyebut dirinya sebagai wirausahawan. Ini menunjukkan bahwa istilah “wirausahawan” itu sudah begitu populer di kalangan masyarakat, sehingga kata-kata ini seakan-akan sudah difahami sebagai pengganti kata “businessman”. Apakah dengan demikian, kata “wirausahawan’ itu benar-benar sama artinya dengan kata “businesman”? Dan kata “wirausaha” sama dengan “business”? Mari kita lihat. Seperti diketahui, ledakan perkembangan bisnis terjadi bersamaan dengan terjadinya Revolusi Industri di Inggris. Lahirnya mesin-mesin industri, membuat dunia perdagangan menjadi marak, karena semua kebutuhan konsumen dengan mudah dapat dipenuhi, tidak peduli berapa banyak jumlah produk yang diminta. Mesin mempermudah segalanya. Mekanisasi industri yang memungkinkan dilakukannya produk masal dengan mutu tinggi, merangsang para pedagang untuk berlomba-lomba menciptakan produk-produk baru yang menarik untuk ditawarkan pada calon pembeli. Fenomena ini akhirnya berkembang menciptakan iklim persaingan antar produsen dan penjual barang. Makin hari persaingan makin tajam, dan menyebabkan para pebisnis merasa semakin sulit menjual produknya di pasar. Dan di sinilah dimulainya degradasi moral. Beberapa businessman yang merasa terjepit, mulai melakukan kecurangan-kecurangan. Penipuan, manipulasi mutu dan harga serta banyak lagi tindakan-tindakan tidak terpuji. Gejala seperti itu berkembang terus, makin lama keculasan para pedagang makin tidak terkendali. Etika seakan sudah tidak diindahkan lagi, setiap orang berebut rejeki untuk kepentingan diri sendiri. Semua cara dihalalkan, kalau perlu dengan menyikut orang lain. Atau menjual barang terlarang sekali pun. Itu sebabnya pada akhirnya orang mengenal apa yang disebut dengan “mafia”. Sejenis kelompok bisnis yang tidak segan-segan melukai bahkan membunuh siapa saja (pejabat pemerintah sekali pun) demi kepentingan bisnis. Melihat dunia usaha yang sudah demikian ambur-adul, masyarakat banyak akhirnya mengasosiasikan bisnis sebagai kegiatan kotor, lambang keserakahan yang menjijikkan. Timbul semacam perasaan skeptis di kalangan awam. Sadar akan hal itu, beberapa kalangan pengusaha yang masih memegang nilai-nilai bisnis yang bersih, mulai menerapkan dan mengembangkan prinsip perdagangan baru. Mereka tetap berpendapat bahwa bisnis itu sebenarnya mengandung nilai-nilai yang luhur. Dengan bisnis, martabat manusia menjadi ditinggikan dan termuliakan. Oleh karenanya, sifat serta tindakan buruk harus dilenyapkan dari dunia usaha. Maka, wacana entrepreneurship pun muncul. Inilah yang kemudian di Indonesia dikenal dengan istilah “wiraswasta” dan bermetamorfosis menjadi “wirausaha”. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa perbedaan pertama yang membedakan makna “bisnis” dengan “wirausaha” adalah bahwa “bisnis” memilik arti yang lebih umum, dengan kriteria-kriteria yang lebih longgar. Sedangkan “wirausaha” mengandung arti tentang serangkaian kegiatan komersial, dengan dilandasi pada attitude yang baik dari pelakunya. Wirausahawan berkiprah melalui koridor yang lebih sempit, di mana mereka harus memperhatikan berbagai kriteria, rambu dan etika yang akan menjamin kelangsungan kehidupan berbisnis agar selalu menghasilkan manfaat maksimal bagi umat manusia (bukan hanya dirinya sendiri saja). Walau pun dalam kenyataannya, “businessmen” mau pun “entrepreneurs” terlibat dalam aktivitas yang sama, dalam ruang dan waktu yang sama pula, namun ada beberapa tolok ukur yang dapat digunakan untuk membedakan kedua jenis pelaku ekonomi ini. Di antaranya adalah: 1. Business bersifat “focus on profit”, sedangkan wirausaha bersifat “focus on benefit”. Seorang pebisnis umumnya memusatkan perhatian pada sebanyak-banyaknya keuntungan komersial yang dapat diperoleh, tanpa memperhatikan dan kalau perlu mengorbankan kepentingan orang lain. Misalnya, perusahaan pertambangan yang sangat kaya raya, tapi tidak memperhatikan kerusakan lingkungan dan membiarkan masyarakat sekitarnya tetap miskin. Kalau sang pengusaha adalah seorang wirausahawan tulen, hal itu tak akan terjadi. Karena ia pasti akan memelihara serta melestarikan lingkungan dan menyejahterakan masyarakat sekitar. Ia sadar bahwa tindakan itu bukan sekadar tindakan bersifat sosial semata, tapi juga mengandung benefit yang mendukung kemajuan perusahaannya. 2. Bisnis lebih bersifat “win-lose”, sedangkan wirausaha lebih bersifat “win-win “. Kebanyakan pebisnis menghendaki kekalahan pesaingnya, dengan demikian ia mengira usahanya akan lebih leluasa mengejar keuntungan, tanpa harus memperhatikan kualitas dari produk dan jasa yang dijual. Wirausaha sebaliknya, lebih merasakan manfaat dari kehadiran para pesaing, dengan demikian setiap saat ia dapat mengukur kualitas produk serta peningkatan kinerja perusahaannya. 3. Bisnis menggunakan pendekatan “kuantitatif”, sedangkan wirausaha menggunakan pendekatan “kualitatif”. Secara tradisional, kaum pebisnis selalu memulai usahanya dengan kapital besar, setidaknya dalam jumlah yang seaman-amannya sesuai dengan ukuran besar-kecilnya suatu bidang bisnis. Dalam hal ini, pengusaha lebih mengandal pada kekuatan finansial yang ada di bawah kendalinya. Wirausahawan di lain fihak, memulai usaha dengan modal kecil, kadang tidak sesuai dengan jumlah normal yang diperlukan bagi sebuah bidang usaha. Tetapi, banyak dari mereka berhasil sukses. Dalam hal ini, wirausahawan lebih mengandal pada keuletan pribadinya, bukan kepada kekuatan uang. 4. Bisnis berpedoman kepada “hasil’, sedangkan wirausaha berpedoman kepada “cara’ Pebisnis kebanyakan berkiblat hanya kepada hasil yang harus dicapai, tanpa peduli cara apa yang digunakan. Misalnya, kalau hendak melakukan pembebasan tanah, kalau perlu mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan. Sebaliknya, wirausahawan lebih menggunakan pendekatan saling menguntungkan. Tidak jarang dalam suatu program pembebasan tanah yang dilaksanakan seorang wirausahawan, warga yang tergusur justru berubah menjadi orang-orang kaya baru (OKB), bahkan tidak sedikit yang kemudian pergi naik haji dengan istilah mereka sendiri “Haji Gusuran”. Ciputra adalah salah seorang yang menunjukkan kualitasnya sebagai wirausahawan seperti itu. 5. Pebisnis menganalogikan aktivitasnya sebagai “perang”, dan cenderung “membunuh orang lain”. Sedangkan wirausahawan lebih berkeinginan untuk “menghidupi orang lain”. Pada beberapa peristiwa, high-class businessmen selalu mengincar perusahaan-perusahaan lain yang lebih kecil untuk diakuisisi. Senang atau tidak senang. Di masa lalu, taipan yang menguasai bisnis terigu dari hulu sampai ke hilir, selalu memaksa perusahaan-perusahaan mie milik orang lain untuk diambil alih. Kalau tidak bersedia, pasokan terigunya akan dihentikan, maka mau tidak mau pengusaha-pengusaha mie itu menyerah juga. Itulah kecenderungan dari sepak terjang seorang pebisnis. Wirausahawan sebaliknya, mencari momentum untuk dapat bersinergi dengan kompetitor. Contohnya, Hewlett Packard (HP) memberikan fasilitas dan bantuan kepada pesaingnya “Textronix” untuk memproduksi barang yang sama serta dengan teknologi yang sama pula dengan yang diproduksi oleh HP. Begitu juga dengan yang dilakukan Astra. Perusahaan raksasa nasional ini, tidak berupaya untuk mencaplok orang lain. Sebaliknya, mereka melakukan pendekatan kemitraan, dengan jalan memberikan pembinaan modal dan manjemen kepada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. 6. Bisnis memasukkan sudut pandang “spekulatif”, sedangkan wirausaha memasukkan sudut pandang “partisipatif” . Di dunia perdagangan saham, rekasadana dan juga valas, para pebisnis berlomba-lomba mengerahkan segenap kemampuan untuk dapat meraup sebanyak-banyaknya keuntungan finansial. Mereka memainkan uang tidak ubahnya bagai penjudi-penjudi yang sedang bertaruh. Seorang wirausahawan, berpartisipasi di dunia saham, reksadana dan valas dengan paradigma sebatas antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya perubahan ekonomi mendadak. Di samping itu juga atas dasar simpatinya kepada perusahaan-perusahaan yang berkarakter wirausaha, atau kepada pemerintah. 7. Businessmen menerapkan teori x atau y, sedangkan wirausahawan menerapkan teori z. Dalam menangani masalah karyawan, pebisnis biasanya menerapkan teori x atau y (McGregor) yang pada galibnya memperlakukan karyawan hanya sebagai unsur produksi. Para wirausahawan di lain fihak, condong melakukan pendekatan kemitraan ala teori z (William Ouchi), sehingga para karyawan merasa berbahagia karena diperlakukan sebagai manusia yang sederajat. 8. Seorang wirausahawan adalah seorang (clean) businessman, tapi seorang businessman belum tentu seorang wirausahawan. Butir-butir penjelasan di atas diharapkan dapat membantu Anda untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa yang dimaksud dengan kewirausahaan. Pada acara-acara pemilihan The Best Entrepreneur, Entrepreneur Of The Year dan semacamnya, maka kriteria-kriteria di atas seyogyanya dapat diterapkan, agar tidak terjadi pemilihan yang tidak proporsional. Pertanyaan berikut mungkin perlu diajukan: “Sudah seberapa wirausaha kah Anda?” Rusman Hakim Pengamat Kewirausahaan E-mail: rusman@gacerindo.com Web: http://www.gacerindo.com Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s