Skill saja Tidak Cukup

Posted: November 22, 2007 in motivasi

 57246.jpg

Skill saja tidak cukup

A. B. Susanto*


Seorang rekan di kantor kami pernah bercerita tentang pengamatannya terhadap dua orang rekan kantornya di perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya. Hasil pengamatan ini sungguh menarik untuk dicermati sebagai studi kasus yang nyata, untuk kita ambil hikmahnya. Bahkan, barangkali entah secara sadar atau tidak sadar Anda sendiri pun pernah berada dalam situasi yang serupa dengan salah satu tokoh dalam kisah nyata ini. Bukankah belajar dari pengalaman orang lain cenderung lebih mudah daripada berkaca pada diri sendiri? Dalam melakukan analisis, bukankah seringkali obyektivitasnya lebih terjaga ketika obyek amatannya adalah orang lain dan bukan diri kita sendiri?

Untuk memudahkan rekonstruksi cerita dan menyamarkan jati diri rekan dari rekan saya ini, kita sebut saja pihak pertama dengan nama Agung dan pihak kedua dengan nama Bram. Agung dan Bram adalah dua orang fresh graduate dari dua universitas di dalam negeri yang berlainan. Agung lulusan dari PTN ternama dengan disiplin ilmu yang jadi unggulan di almamaternya, dan prestasinya memang baik sekali. Wajar sekali jika Agung bangga dengan prestasi akademisnya. Bram sendiri meski tidak segemerlap itu almamaternya tetapi sesungguhnya prestasi akademiknya hanya beda tipis di bawah Agung. Kebetulan keduanya memulai hari pertama dalam perjalanan karirnya di perusahaan yang sama, departemen yang sama, tanggung jawab yang kurang lebih sama dan bahkan memulainya pada minggu yang sama pula. Yang berbeda hanyalah divisi tempat bekerja dan kick-off day-nya saja. Kesamaan titik start dan tanggung jawab ini, yang memang benar-benar terjadi, sungguh merupakan kebetulan yang memudahkan kita dalam melakukan analisis.

Keunggulan prestasi akademis Agung ternyata sukses ditransformasikan ke dalam pekerjaannya. Ia berhasil mendapatkan ”proyek cokelat”, kategori proyek yang di lingkungan kerjanya tergolong proyek besar, wah, dan prestisius. Proyek yang manis dan dimaui semua orang. Suksesnya dalam mendapatkan proyek coklat ini ditindaklanjuti dengan penanganan yang prima, baik secara teknis maupun non teknis, sehingga klien benar-benar puas. Hubungan baik yang terjalin dan kepuasan atas pekerjaan menimbulkan kepercayaan yang tinggi dari klien kepada perusahaan ini dan lebih khusus lagi kepada Agung. Hal ini membuat klien tersebut tidak bisa pindah ke lain hati. Dapat ditebak, loyalitas klien dengan proyek cokelat yang berulang ini tentu memuaskan manajemen perusahaan tempat Agung bekerja. Berhubung perusahaan tempatnya bekerja memiliki sistem reward yang baik, maka dengan mulus Agung pun mendapat ganjaran yang setimpal. Ia dipromosikan menjadi senior di usianya yang masih muda. Promosi ini juga berimbas pada gajinya yang meningkat secara signifikan. The rising star sudah menunjukkan sinarnya.

Di saat Agung mendapatkan promosinya, mari kita tengok apa kabar Bram? Boleh dikata, Bram belum seberuntung Agung. Dalam jenjang struktur organisasi, Bram masih belum beranjak dari posisinya di saat start. Berarti, satu langkah Bram telah tertinggal dari Agung yang hari pertamanya bekerja hanya berbeda dalam hitungan jari pada satu tangan. Apakah berarti Bram tidak bisa bekerja dengan baik? Kenyataan di lapangan menyatakan bahwa Bram bekerja dengan baik. Klien (eksternal) maupun teman sejawat nyaris tidak pernah ada yang mencela terhadap hasil maupun proses kerja yang dilakukan Bram. Sebagai pekerja, Bram adalah pekerja yang tekun. Dalam kata lain, tidak ada masalah dengan kinerja Bram. Apalagi Bram merupakan tipe orang yang luwes dan supel dalam bergaul serta memiliki artikulasi yang baik dalam berkomunikasi. Dalam setiap evaluasi penilaian kinerja (performance appraisal), Bram selama ini memang selalu tertinggal dari Agung, tetapi bukan berarti ada masalah pada diri Bram. Hal ini terjadi hanya karena Agung selama ini secara luar biasa menunjukkan kinerja yang excellent dan Bram dengan prestasinya yang sekedar ’baik’ tertutup pamornya.

Perkembangan setelah tahap ini lebih menarik lagi. Sebagai the rising star, Agung diposisikan sebagai selebritis. Didukung oleh kekuatan humor khas ludruknya, ia mendapatkan banyak penggemar, terutama dari kalangan grass-root. Snapshot pada kondisinya saat itu memperlihatkan gambaran seorang Agung yang dipantau dari atas (oleh manajemen) sebagai the rising star, dari samping (oleh rekan sejawatnya, termasuk Bram) banyak menimbulkan decak kagum di satu sisi dan rasa iri di sisi lain, serta dari bawah (grass-root) ia dipuja-puji. Puja dan puji dari grass-root ini turut membangkitkan semangat heroisme Agung ketika manajemen perusahaannya berencana melakukan PHK masal pada staf sekuriti. Hal ini bermula dari penilaian manajemen bahwa akan lebih efisien jika kebutuhan terhadap staf sekuriti dilimpahkan kepada pihak ketiga (outsource). Perihal lebih efisien Agung dan rekan sejawatnya secara teknis sepakat. Hanya saja, secara non teknis Agung merasa kurang manusiawi. Pendapat ini sudah dilontarkannya dalam rapat dengan pihak manajemen, hanya saja dengan berbagai pertimbangan yang ada hasil rapat memutuskan untuk tetap berjalan pada rencana semula.

Jelas, Agung tidak puas dengan hasil rapat tersebut dan secara bergerilya ia mencari dukungan ke sana ke mari. Pihak manajemen yang mencium gelagat ini kontan menghadiahi Agung dengan teguran berupa SPK-1 karena kebijakan yang sudah ditetapkan melalui rapat dan masih belum disosialisasikan ini kadung disosialisasikan secara ’berbeda’. Aksi heroik ini hanya salah satu dari sekian ’trouble’ sebagai akibat ’kreativitas lebih’ Agung yang dinilai manajemen tidak tepat waktu dan sasarannya. Kompetensi teknis Agung yang di atas rata-rata, dalam perspektif manajemen, belum diimbangi oleh kedewasaan dan kematangan pribadi sehingga seringkali menjadi kontraproduktif. Padahal semakin tinggi suatu posisi, maka kompetensi non teknis makin diperlukan. Walhasil perkembangan karir Agung berjalan tersendat. Tiga tahun sejak promosinya menjadi senior barulah ia dapat mencicipi posisi manajer.

Pada saat Agung menanjak karirnya, Bram masih tertinggal. Lantas bagaimana kondisinya tiga tahun kemudian, apakah masih tertinggal di belakang Agung? Ternyata tidak, pencapaian karir Bram justru sudah melampaui pencapaian karir Agung. Kenapa bisa demikian? Berkaca pada Agung, Bram sadar diri bahwa secara teknis kemampuannya bukan yang terhebat. Untuk itu ia mengembangkan sisi lain kemampuannya, terutama bagian soft-nya. Keluwesan dan kemampuan interpersonal Bram yang disertai cukup kerendah-hatian menjadikannya lancar dalam pergaulan. Ia juga memahami denyut ritme dan irama kehidupan di lingkungan kerjanya, termasuk mengetahui kemana angin bertiup. Berbeda dengan Agung yang cenderung kaku, dengan pemahaman dan keluwesan ini Bram dapat secara leluasa menempatkan diri. Dengan demikian ia dapat sukses membangun jejaring dan melakukan lobbying. Seiring berjalannya waktu, pada saat Agung mencapai posisi manajer, Bram sudah dapat menduduki posisi senior manajer.

Dengan pencapaian ini seolah ada pesan tidak langsung yang hendak disampaikannya pada Agung, ”Sorry Gung, hari gini skill saja tidak cukup!”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s